Bab 34

2.1K 176 36
                                        

Selamat Membaca



















Shani berlari menghampiri, memanggil nama Chika berulang kali sambil mencoba membangunkannya.

“Chika! Chika! Bangun, sayang!” seru shani panik sambil mengguncang tubuh Chika yang tergeletak di lantai. Wajah Chika pucat, keringat dingin membasahi dahinya. Shanj segera meraih ponselnya dan menelepon Zean.

“Zean! Pulang sekarang juga! Chika pingsan!” Suara Shani terdengar gemetar, membuat Zean yang sedang menyusuri jalan langsung berhenti.

Zean hampir menjatuhkan ponselnya. “Oke, Ma. Kita balik sekarang!”

Di rumah…

Shani sudah meletakkan Chika di sofa dengan kepala disangga bantal. Kompres basah diletakkan di dahi Chika, tapi demamnya tidak juga turun. Napas Chika tetap berat, dan tubuhnya tampak semakin lemah.

Tak lama kemudian, pintu rumah terbuka dengan keras. Zean dan Christy berlari masuk.

“Ma! Chika mana?!” Zean.

Mama menunjuk ke sofa, dan Christy langsung berlutut di samping kakaknya.

“Kak Chika…” bisiknya, tangannya menggenggam tangan Chika yang dingin.

“Bang, kita harus bawa Kak Chika ke rumah sakit sekarang!"ucap shani


Tanpa menunggu lama, Zean menggendong tubuh Chika yang lemas. Christy terus menahan air matanya, berlari mengikuti mereka keluar rumah menuju mobil













Di rumah sakit…

Mereka tiba di rumah sakit dengan panik. Zean berlari masuk ke UGD sambil membawa Chika

“Tolong! Adik gue butuh bantuan!” teriak Zean.

Para perawat segera bergegas membawa Chika ke ruang perawatan. Shani, Zean, dan Christy hanya bisa menunggu di luar, hati mereka penuh kecemasan.

Tak lama kemudian, seorang dokter keluar dari ruang perawatan. Mereka bertiga langsung berdiri.

“Gimana keadaan anak saya, Dok?” tanya shani cepat.

Dokter itu menghela napas. “Demamnya sangat tinggi, dan dia mengalami dehidrasi parah. Untung kalian cepat membawanya ke sini. Kami sudah memberikan cairan infus dan obat penurun panas. Sekarang dia butuh banyak istirahat.”

“Kami bisa lihat dia, Dok?”tanya zean

Dokter mengangguk. “Tapi jangan terlalu lama, dia masih sangat lemah.”

Di ruang perawatan…

Chika terbaring lemah di ranjang rumah sakit, dengan selang infus di tangannya. Wajahnya masih pucat, tapi napasnya sudah lebih teratur. Christy berjalan pelan mendekati kakaknya, duduk di sisi ranjang.

“Kak…” bisik Christy sambil menggenggam tangan Chika. “Jangan kayak gini dong, jangan nyiksa diri kamu” Suaranya bergetar.

Zean berdiri di sisi lain ranjang, menatap adiknya yang terbaring lemah. “Lo nyusahin banget, tau nggak, Chik?” gumamnya pelan, tapi ada kelegaan dalam nada suaranya.

Shani berdiri di ujung ranjang, mengusap kepala Chika dengan lembut. “kakak harus cepat sembuh, Nak. Mama nggak mau lihat kamu kayak gini lagi.”

Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar dari lorong. Pintu kamar perlahan terbuka, memperlihatkan empat wajah yang tak asing bagi mereka yaitu teman2 chika
—Olla, Adel, Oniel, dan Flora.

YANG INDAH? | ch2 (END) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang