⚠️ PERHATIAN! ⚠️
Guys, sebelum baca part ini, diharapkan baca sinopsis dulu ya 📖 biar nggak lupa alurnya! 😉✨
Disclaimer : Beberapa hari setelah kesembuhan christy..
Gracio duduk di ruang kerjanya, menatap jendela dengan tatapan kosong. Jemarinya mengetuk-ngetuk meja, pikirannya melayang jauh ke masa lalu.
Saat Christy masih bayi, keluarganya mengalami masa-masa sulit.
Teror yang menargetkan keluarga mereka selalu berpusat pada putri bungsunya. Karena itu, saat Christy baru berusia 18 bulan, ia dan Shani mengambil keputusan berat—memindahkan Christy ke rumah Papa dan Mamanya, Jonathan dan Shanju, demi keamanannya.
Awalnya, itu hanya keputusan sementara, sampai situasi membaik. Namun, waktu berjalan begitu cepat. Ancaman yang dulu menghantui mereka perlahan menghilang, tetapi Christy tetap tinggal di rumah kakek dan neneknya.
Gracio tidak pernah benar-benar mempermasalahkan keputusan itu. Toh, Christy terlihat baik-baik saja. Namun, belakangan ini, ada satu hal yang mengusiknya.
Christy semakin jarang pulang ke rumah mereka. Bahkan di momen-momen keluarga, gadis itu lebih sering kembali ke rumah Jonathan dan Shanju lebih awal dibandingkan menghabiskan waktu di rumahnya sendiri.
Tapi bukan itu saja yang membuat Gracio gelisah. Ia melihat sendiri bagaimana Chika dan Christy begitu dekat—terlalu dekat. Dimanapun ada Chika, Christy pasti ada di sekitarnya. Mereka tidak terpisahkan.
Gracio mengusap wajahnya, menghela napas panjang sebelum akhirnya melangkah ke ruang keluarga, di mana Shani tengah duduk santai di sofa, memeluk bantal kecil sambil menonton drama.
Tanpa banyak bicara, ia duduk di samping istrinya dan langsung menarik wanita itu ke dalam pelukannya.
Shani terkekeh kecil, sedikit kaget dengan aksi tiba-tiba suaminya. "Kenapa sih, mas? Tiba-tiba jadi manja gini?" godanya.
Gracio menghela napas pelan, dagunya bertumpu di bahu Shani. "Aku lagi kepikiran sesuatu."
Shani menoleh, menatap suaminya dengan alis terangkat. "Hmm? Tentang kerjaan?"
"Bukan." Gracio mengangkat kepalanya, menatap Shani serius. "Tentang dedek."
Shani meletakkan remote TV, kini perhatiannya sepenuhnya tertuju pada suaminya. "Kenapa dedek?"
Gracio menarik napas dalam sebelum akhirnya berkata, "Aku mau dia kembali tinggal sama kita."
Shani mengerutkan kening, tampak terkejut. "Hah? Kok tiba-tiba, mas? Aku kira kita udah sepakat kalau dia lebih nyaman di rumah Papa dan Mama?"
Gracio menatapnya dalam, tangannya turun menggenggam jemari istrinya. "Iya, aku tahu. Aku juga nggak pernah mempermasalahkan itu sebelumnya."
"Tapi aku mulai sadar… Aku ayahnya, tapi rasanya dia lebih dekat sama Papa dan Mama dibanding sama kita sendiri."
Shani terdiam sejenak, mencoba memahami maksud suaminya.
"Aku juga nggak mau misahin chika dan Christy," lanjut Gracio, suaranya lebih lembut. "Aku lihat sendiri betapa dekatnya mereka. Christy nggak bisa jauh dari Chika, dan sebaliknya."
"Mereka itu saudara, dan aku nggak mau ada jarak di antara mereka karena tinggal di rumah yang berbeda."
Shani menghela napas pelan, menatap suaminya dengan lembut. "Kamu takut kalau mereka jadi asing satu sama lain?"
KAMU SEDANG MEMBACA
YANG INDAH? | ch2 (END)
FanfictionDipisahkan sejak bayi, Chika dan Christy kembali bertemu setelah 16 tahun. Bagi Chika, adiknya adalah separuh dirinya, sumber bahagia sekaligus luka terdalam. Chika rela mati-matian menjaga, meski perlindungan itu sering disalahpahami. Christy sayan...
