Bab 65

1.3K 151 28
                                        

Selamat Membaca...





































Deru mesin mobil-mobil besar itu bergemuruh di jalanan malam.

Konvoi keluarga Gracio tiba tepat di depan rumah Opa Jojo, hanya untuk melihat bodyguard-bodyguard berbadan besar sedang memasukkan koper-koper ke dalam bagasi mobil mewah berwarna hitam.

Zean, yang melihat itu dari dalam mobil, langsung merasakan darahnya mendidih. "Sialan! Mereka mau bawa Christy keluar negeri!"

Chika menatap adegan itu dengan rahang mengeras. "Mereka mau memastikan kita nggak bisa nemuin Christy lagi."

Tak bisa menunggu lebih lama, Gracio keluar dari mobil dengan langkah lebar, langsung menghampiri kerumunan itu.

"HENTIKAN SEMUANYA!"

Suara Gracio menggema di halaman rumah. Semua orang terdiam.

Para bodyguard yang sedang bekerja langsung berhenti, menatap ke arahnya dengan waspada. Opa Jojo dan Oma Shanju, yang baru saja keluar dari rumah, memandang Gracio dengan tatapan tajam.

Opa Jojo melipat tangannya di depan dada, wajahnya penuh keangkuhan.

"Kau terlambat, Gracio."

Gracio menatapnya dengan mata membara. "Christy mau kalian bawa ke mana?"

Oma Shanju tersenyum dingin. "Kami hanya ingin menjauhkan Christy dari lingkungan buruk yang kau ciptakan."

Chika, yang baru saja turun dari mobil, langsung melangkah maju dengan ekspresi marah. "Lingkungan buruk? Itu keluarganya sendiri, Oma!"

Opa Jojo mengangkat dagunya. "Kami sudah putuskan. Ini yang terbaik untuknya. Jika kalian benar-benar menyayangi Christy, kalian seharusnya berterima kasih."

"TERIMA KASIH?" Zean mendengus sinis. "Kalian mengurung adik saya di rumah ini, membuat dia menderita, dan sekarang mau menculiknya ke luar negeri? Kalian pikir gue bakal diem aja?"

Gracio mengambil langkah maju, matanya penuh kemarahan. "Aku sudah cukup bersabar. Malam ini, aku pulangkan anakku."

Opa Jojo tersenyum dingin. "Kau tidak dalam posisi untuk memutuskan itu."

Dengan isyarat halus dari tangannya, puluhan bodyguard segera membentuk barisan, menghalangi jalan masuk ke rumah.

Udara malam semakin mencekam.

Suara gesekan sepatu di tanah terdengar jelas di antara keheningan. Ketegangan menggantung di udara.

Zean mengepalkan tinjunya. Chika mengeratkan genggamannya.

Gracio menyeringai. "Baiklah. Kalau ini yang kalian mau."

Dengan sekali gerakan, orang-orang Gracio langsung maju.

PERTEMPURAN PECAH!

Suara benturan, pukulan, dan tubuh yang bertubrukan menggema di halaman rumah.

Zean langsung meninju satu bodyguard yang mendekatinya, membuat pria itu terhuyung ke belakang. Dengan gerakan cepat, ia menghindari serangan dari sisi lain, lalu membalas dengan siku ke rahang lawan.

Chika, bergerak lincah, meninju, menendang keras lutut lawannya, lalu menghajarnya dengan pukulan di wajah.

Sementara itu, Gracio sendiri menghadapi dua bodyguard sekaligus.

Dengan kecepatan dan kekuatan luar biasa, ia melumpuhkan satu dengan tendangan keras ke perut, lalu menghantam kepala yang satunya dengan siku kuatnya.

Shani, yang sejak tadi menahan diri, akhirnya maju juga. Ia menampar salah satu bodyguard yang berusaha menghalanginya.

YANG INDAH? | ch2 (END) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang