Happy Reading
Malam itu setelah Ameera tidur lebih awal dari biasanya, rumah kembali sunyi.
Gala rebahan di sofa, sementara Bulan duduk di lantai dengan laptop kecilnya. Entah kenapa sejak sore tadi pikirannya terasa lebih ringan-mungkin karena kabar bahagia Priska, mungkin juga karena weekend ini terasa damai.
"Tiba-tiba aku pengen pergi," ucap Bulan tanpa menoleh.
"Pergi ke mana?" Gala langsung waspada. "Indomaret?"
Bulan memutar mata.
"Liburan."
Gala langsung bangkit setengah duduk.
"Wah ini menarik."
"Bukan jauh-jauh. Dekat aja. Yang penting suasana beda."
Gala menatapnya penuh minat.
"Kapan?"
"Ya nggak sekarang juga. Tapi kapan-kapan. Sebelum kamu sibuk lagi."
Gala berpikir sebentar.
"Staycation?"
Bulan mengangguk pelan.
"Iya. Hotel yang nyaman. Ada bathtub. Aku pengen rendam air hangat lama-lama."
Gala langsung menyeringai.
"Oh jadi niatnya bukan liburan, tapi healing pribadi."
"Ya memang. Aku butuh itu."
Gala mengangguk setuju.
"Setuju sih. Kamu pantas."
Bulan membuka beberapa pilihan hotel di layar.
"Aku pengen yang family friendly. Ada baby crib. Ada kolam juga."
Gala mendekat dan ikut melihat layar.
"Yang nggak terlalu jauh ya. Biar Ameera nggak rewel di jalan."
"Setuju. Dua atau tiga jam maksimal."
Beberapa menit mereka serius memilih, sesuatu yang jarang terjadi tanpa bercanda.
"Aku pengen suasana sejuk," kata Bulan pelan. "Udah lama nggak lihat yang hijau-hijau."
Gala tersenyum tipis.
"Kamu capek ya di rumah terus?"
Bulan diam sebentar.
"Bukan capek rumahnya. Tapi rutinitasnya."
Gala mengangguk mengerti.
"Berarti kita cari tempat yang tenang. Yang bisa kamu istirahat beneran."
Bulan menoleh padanya.
"Kamu juga istirahat."
"Aku mah istirahat kalau lihat kamu nggak tegang."
Kalimat itu membuat Bulan terdiam sebentar.
"Aku sering kelihatan tegang ya?"
"Kadang," jawab Gala jujur. "Kamu suka mikir sendirian."
Bulan menarik napas kecil.
"Makanya aku pengen liburan. Biar kita nggak cuma jadi 'orang tua Ameera', tapi tetap jadi kita."
Gala tersenyum lembut.
"Deal."
Lalu tentu saja, sisi tengilnya muncul lagi.
"Tapi satu kamar ya."
Bulan langsung melirik tajam.
"Memang mau berapa?"
"Siapa tahu kamu minta kamar terpisah karena trauma pegal."
Bulan melempar bantal kecil ke arahnya.
"Gala!"
Ia tertawa lepas.
KAMU SEDANG MEMBACA
GALLAN
RomansaTidak ada yang tau mengenai garis takdir yang sudah di tentukan oleh Tuhan.Bulan seorang wanita karir yang sampai saat ini belum menikah juga semenjak dijadikan taruhan oleh mantan pacarnya. Tanpa di duga enam tahun mereka berpisah. kini mereka ha...
