Forty Seven

1.4K 52 16
                                        

Happy Reading

Pagi di Singapura datang dengan sapaan yang dingin. Gala hampir tidak tidur; ia hanya sempat memejamkan mata beberapa menit sebelum alarm berdering, meninggalkan gurat letih yang lebih dalam di wajahnya dibanding hari kemarin.

Di tepi ranjang hotel, ia terpaku pada ponselnya. Tidak ada pesan dari Bulan, pun tidak ada kabar tentang Ameera. Biasanya, Galalah yang selalu mendahului—memastikan, mencari tahu, dan menjaga agar benang komunikasi mereka tidak putus. Namun hari ini, meski raganya mulai menyerah pada lelah, ia tahu ia akan tetap melakukan hal yang sama. Karena baginya, berhenti berarti benar-benar kehilangan.

Meeting pagi itu berjalan dalam formalitas yang menjemukan. Di tengah riuh presentasi, Viska duduk tepat di seberangnya. Fokus, dingin, dan profesional. Tidak ada tatapan aneh atau obrolan pribadi, namun justru profesionalisme itu yang membuat Gala frustrasi. Ia sadar bahwa kegelisahannya bukan tentang apa yang sedang ia lakukan sekarang, melainkan tentang bayang-bayang kesalahan lama yang terus menghantui setiap langkahnya.

"Masih lanjut makan siang bareng tim?" tanya Viska singkat saat ruangan mulai kosong.

"Enggak. Aku ada call," jawab Gala cepat.

Ia menutup pintu rapat-rapat, tak ingin memberi celah sekecil apa pun bagi kesalahpahaman untuk tumbuh.

Namun di kepalanya, ia masih bisa melihat tatapan dingin Bulan saat bertanya semalam: "Kamu ke Singapura sama Viska?" Tatapan yang penuh luka itu membuatnya terus menatap layar ponsel sepanjang siang.

"Ameera lagi apa?" ketik Gala.

Lama. Tidak ada balasan. Menit terasa seperti jam hingga akhirnya sebuah kata muncul: "Tidur."

Singkat. Tanpa foto. Gala sempat mengetik
"Aku kangen", namun segera menghapusnya karena merasa itu terlalu memaksakan keadaan.

Akhirnya ia hanya membalas, "Kalau bangun, kirim foto ya."

Balasannya datang cepat namun tetap datar: "Nanti."

Gala menurunkan ponselnya perlahan. Dadanya terasa berat. Ia sadar ia sedang berjuang sendirian untuk sebuah percakapan yang dulu mengalir alami. Ketakutan terbesarnya bukan lagi kemarahan Bulan, melainkan saat di mana istrinya itu benar-benar berhenti membalas—bukan karena benci, tapi karena sudah tidak ada lagi rasa yang ingin dipertahankan.

Sementara itu, di sebuah sudut kamar yang redup, hujan turun menyapu jendela. Bulan menatap wajah kecil Ameera yang terlelap di dadanya setelah menyusu. Hidung mungil dan bulu mata tipis itu membuat hatinya penuh, namun di sudut terdalam, rasa bersalah diam-diam tumbuh.

"Maafin Mama ya, Nak..." bisiknya parau. "Dulu Mama nggak siap."

Air matanya jatuh perlahan. Ameera tidak hadir dari rencana besar atau dongeng cinta yang manis. Ia hadir dari sebuah kecelakaan di tengah hubungan yang bahkan belum benar-benar pulih. Sebuah ironi yang memaksa dua orang yang masih belajar memaafkan untuk tiba-tiba menjadi orang tua.

"Tapi bukan berarti kamu salah," lanjut Bulan cepat.

"Justru kamu yang paling Mama syukuri. Kalau bukan karena kamu, mungkin Mama masih sibuk lari dan menyalahkan masa lalu." Bulan tertawa kecil di sela tangisnya, menyadari bahwa putrinya adalah hadiah yang tidak pernah ia rencanakan, namun paling ia sayangi.

"Mama nggak tahu nanti rumah ini akan utuh atau nggak... tapi Mama janji, Mama sanggup besarin kamu sendirian."

Malam semakin larut ketika pintu rumah perlahan terbuka. Gala berdiri di ambang kamar dengan koper di tangan, sengaja mempercepat kepulangannya demi sebuah kejutan. Namun, langkahnya membeku saat mendengar gumaman lirih dari balik pintu yang sedikit terbuka.

"Kalau nanti Mama harus besarin kamu sendirian... Mama janji Mama sanggup. Mama kuat kok."

Kalimat itu menghantam dada Gala seperti godam. Tangannya yang memegang gagang koper melemas. Ia tidak berniat menguping, tapi kata-kata itu seolah menegaskan bahwa Bulan sudah menyiapkan diri untuk hidup tanpa dirinya. Setiap kata yang diucapkan Bulan terasa seperti jarum yang menusuk—bukan karena kehadiran Ameera, tapi karena ia menyadari Bulan sedang bersiap untuk melepas.

Gala mendorong pintu sedikit lebih lebar, membuat Bulan terlonjak kaget.

"Kamu... sudah pulang?"

Gala masuk perlahan, meletakkan kopernya tanpa suara.

"Aku nggak sengaja dengar," ucapnya jujur dengan suara serak. Hening yang mencekam menyelimuti ruangan. Gala mendekat satu langkah, menatap Bulan dengan tatapan yang sangat rapuh.

"Kalau kamu siap besarin Ameera sendirian... apa itu berarti kamu sudah nggak butuh aku lagi?"

Pertanyaan itu meluncur tanpa amarah, hanya ketakutan yang tulus. Gala menelan pahit, matanya beralih ke Ameera lalu kembali ke Bulan.

"Aku tahu aku banyak salah. Aku tahu kamu kecewa. Tapi jangan pernah merasa kamu harus kuat sendirian. Ameera bukan cuma tanggung jawab kamu. Dan kamu... kamu bukan perempuan yang harus jalan sendiri."

Untuk pertama kalinya, Gala tidak lagi berdiri sebagai pria yang membela diri, melainkan sebagai seorang ayah dan suami yang takut kehilangan dunianya.

T.B.C

GALLANCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang