Happy Reading
Pagi itu rumah terasa hangat oleh cahaya matahari. Bayi kecil itu sedang terjaga, matanya jernih menatap wajah-wajah yang mengelilinginya.
Embun kembali bertanya dengan semangat,
"Nama ponakan cantik ini harus yang paling indah. Jadi... siapa?"
Semua menoleh ke arah Gala.
Gala berdiri perlahan. Kali ini ia terlihat lebih yakin.
"Aku ingin dia bernama..."
Ia menatap putrinya lama sebelum melanjutkan,
"Ameera Kaluna Maheswari."
Embun langsung mengulang pelan,
"Ameera... Kaluna..."
Gala tersenyum tipis lalu menjelaskan,
"Ameera berarti perempuan yang indah dan mulia."
"Kaluna melambangkan keanggunan dan keindahan yang menenangkan."
"Maheswari berarti perempuan kuat dan pelindung."
Ia menatap Bulan saat mengatakan kalimat berikutnya,
"Jadi maknanya... perempuan yang indah, anggun, tapi juga kuat. Yang bisa jadi pelindung untuk mamanya, bahkan saat aku nggak ada di sisi Bulan."
Ruangan kembali sunyi.
Papi Bulan tersenyum bangga.
"Namanya anggun sekali."
Mami mengangguk pelan.
"Indah dan penuh doa."
Embun bahkan terlihat terharu.
"Ini sih vibes-nya anak perempuan elegan banget."
Bulan yang sejak tadi diam, akhirnya bersuara pelan,
"Kenapa Ameera?"
Gala menjawab tanpa ragu,
"Karena aku ingin dia tumbuh jadi perempuan yang tahu nilai dirinya. Indah bukan cuma wajahnya... tapi hatinya."
Bulan menatap bayi kecil itu.
"Ameera Kaluna..." bisiknya pelan.
Nama itu terasa lembut di hatinya.
Indah.
Anggun.
Tapi juga kuat.
Ia tidak tersenyum lebar.
Namun ia berkata pelan,
"Cantik."
Dan pagi itu, untuk pertama kalinya sejak semuanya terasa retak, mereka menyepakati sesuatu tanpa perdebatan—
sebuah nama yang bukan hanya terdengar indah,
tapi menjadi doa agar putri kecil mereka tumbuh menjadi perempuan cantik, kuat, dan mampu melindungi ibunya kapan pun dibutuhkan.
Siang itu setelah makan, suasana kamar kembali tenang.
Ameera sudah tertidur lagi, napas kecilnya teratur di dalam box. Cahaya matahari masuk lembut dari jendela, membuat ruangan terasa hangat—berbanding terbalik dengan isi hati keduanya.
Gala berdiri cukup lama sebelum akhirnya duduk di kursi dekat pintu.
"Aku boleh tanya sesuatu?" suaranya pelan.
Bulan yang sedang melipat baju bayi tidak menoleh. "Apa?"
Gala menelan ludah.
"Soal... perpisahan itu."
KAMU SEDANG MEMBACA
GALLAN
RomanceTidak ada yang tau mengenai garis takdir yang sudah di tentukan oleh Tuhan.Bulan seorang wanita karir yang sampai saat ini belum menikah juga semenjak dijadikan taruhan oleh mantan pacarnya. Tanpa di duga enam tahun mereka berpisah. kini mereka ha...
