Forty Nine

1.5K 39 8
                                        

Happy Reading

Cahaya pagi semakin terang memenuhi kamar.

Bulan perlahan membuka mata.

Beberapa detik ia hanya menatap langit-langit, lalu menyadari posisi mereka.

Ameera masih tertidur di tengah.

Gala duduk setengah tegak di sisi kasur, wajahnya jelas tegang sejak tadi.

Begitu melihat Bulan terbangun, ia langsung berbicara pelan namun tergesa.

"Maaf."

Bulan menoleh sedikit, masih setengah sadar.

"Aku bener-bener nggak sengaja ketiduran," lanjut Gala cepat.

"Aku nggak ada maksud nginep di sini. Aku cuma main sebentar sama Ameera... terus—"

Ia berhenti sejenak, lalu menatap Bulan dengan wajah penuh penyesalan.

"Maaf kalau ini bikin kamu nggak nyaman. Aku salah."

Nada suaranya seperti seseorang yang baru saja melakukan kesalahan besar.

Terlalu serius untuk situasi yang sebenarnya sederhana.

Bulan berkedip pelan.

Lalu hanya berkata datar,

"Iya."

Tidak ada nada marah.

Tidak ada nada hangat juga.

Ia bangkit perlahan dari tempat tidur.

"Ameera belum bangun. Jangan gerak dulu, nanti dia kaget," ucapnya tenang.

Lalu ia berdiri, mengambil handuk, dan berjalan ke kamar mandi.

Tanpa menatap Gala lagi.

Tanpa menambahkan apa pun.

Pintu kamar mandi tertutup pelan.

Gala masih duduk di atas kasur, bingung.

Ia menatap pintu yang baru saja tertutup itu.

Hatinya campur aduk.

Ia sudah menyiapkan diri untuk dimarahi.

Untuk ditegur.

Untuk tatapan dingin.

Tapi respon santai dan acuh itu justru terasa lebih membuatnya kehilangan arah.

"Cuma 'iya'?" gumamnya pelan.

Ia menunduk melihat Ameera yang masih tertidur, wajahnya damai di antara mereka tadi malam.

Untuk sesaat, Gala merasa seperti orang asing di kamar itu.

Tidak diusir.

Tapi juga tidak benar-benar diterima.

Dan sikap Bulan barusan—

Bukan marah.

Bukan benci.

Tapi seperti... jarak yang tak terlihat.

Ia menghela napas panjang.

Ternyata meminta maaf pun belum tentu langsung memperbaiki apa-apa.

Dan untuk pertama kalinya,

Gala benar-benar merasakan betapa sulitnya menembus dinding yang sudah dibangun seseorang demi melindungi hatinya.

*****

Aroma kopi menyebar pelan di ruang tamu.

Gala duduk sendirian di sofa, secangkir kopi di tangannya. Tatapannya kosong ke depan, tapi pikirannya jauh ke semalam.

GALLANCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang