Happy Reading
Pagi datang pelan-pelan.
Cahaya matahari menyelinap masuk lewat celah tirai, jatuh lembut di lantai kamar yang masih terasa baru. Udara rumah itu berbeda dari rumah maminya—lebih sunyi, lebih privat, lebih... milik mereka.
Bulan terbangun lebih dulu.
Beberapa detik ia hanya diam, menatap langit-langit yang semalam menjadi saksi deep talk panjang mereka.
Lalu ia sadar.
Ia tidak sendirian.
Di sebelahnya, Gala masih tertidur, wajahnya terlihat lebih tenang dari biasanya. Tidak ada kerutan tegang di dahinya. Tangannya bahkan tanpa sadar masih berada dekat pergelangan tangan Bulan, seolah semalam takut kehilangan sentuhan itu.
Bulan memperhatikannya diam-diam.
Pria ini, pikirnya.
Masih tengil.
Masih suka bercanda di waktu serius.
Tapi sekarang... berbeda.
Ia belum sempat berpikir lebih jauh ketika terdengar suara kecil dari kamar sebelah.
Tangisan halus Ameera.
Bulan refleks bangun.
Namun sebelum ia turun dari kasur, Gala bergerak lebih dulu. Dengan mata setengah terbuka, ia langsung duduk.
"Ameera," gumamnya.
Bulan berhenti.
Ia memperhatikan.
Gala berdiri, rambutnya masih berantakan, kaosnya sedikit kusut, lalu berjalan cepat ke kamar bayi tanpa banyak bicara.
Beberapa detik kemudian, tangisan itu mereda.
Bulan bisa mendengar suara Gala yang lembut,
"Pagi, princess... kok bangun duluan sih?"
Nada suaranya pelan, penuh senyum.
Bulan tanpa sadar ikut tersenyum.
Ia turun dari tempat tidur dan berjalan ke ambang pintu kamar bayi.
Di sana, ia melihat pemandangan sederhana yang entah kenapa terasa besar—
Gala menggendong Ameera dengan satu tangan, tangan satunya merapikan selimut kecil yang tadi tersingkap. Ia mengayun pelan, sambil menggumamkan sesuatu yang tidak jelas.
Seperti ayah yang sudah terbiasa.
Padahal dulu ia bahkan tidak ada saat awalnya.
Gala menoleh dan menyadari Bulan berdiri di sana.
"Kenapa nggak tidur lagi?" tanyanya pelan.
"Kamu duluan yang bangun," jawab Bulan.
Gala tersenyum kecil. "Refleks."
suasana dapur kecil rumah baru mereka terasa canggung sekaligus hangat.
Gala sudah lebih dulu berdiri di depan kulkas, membuka-tutup isinya seperti orang yang sebenarnya tidak tahu mau masak apa.
Bulan berdiri beberapa langkah di belakangnya, memperhatikan.
"Aku aja yang masak," ucap Bulan tiba-tiba.
Gala menoleh cepat, alisnya terangkat. "Kamu?"
Nada itu bukan meremehkan... tapi jelas ada ragu.
Bulan langsung menyipitkan mata. "Kenapa? Nggak percaya?"
KAMU SEDANG MEMBACA
GALLAN
RomanceTidak ada yang tau mengenai garis takdir yang sudah di tentukan oleh Tuhan.Bulan seorang wanita karir yang sampai saat ini belum menikah juga semenjak dijadikan taruhan oleh mantan pacarnya. Tanpa di duga enam tahun mereka berpisah. kini mereka ha...
