Happy Reading
Seolah merasakan udara kamar yang berubah tegang—
Ameera tiba-tiba menangis.
Bukan tangisan kecil biasa.
Tapi keras. Nyaring. Panjang.
Bulan refleks mengusap cepat air matanya yang belum sempat kering.
"Shh... iya, iya sayang... mama di sini," ucapnya tergesa, mencoba tetap tenang meski suaranya sedikit gemetar.
Ameera semakin kencang menangis.
Tangannya mengepal kecil. Wajahnya memerah.
Gala yang tadi berdiri terpaku langsung tersadar. "Kenapa? Kenapa dia?" Suaranya panik.
Ia mendekat tanpa pikir panjang.
"Kasih sini, mungkin aku gendong," katanya cemas.
Bulan masih mencoba menepuk-nepuk pelan punggung putrinya, mengayun tubuhnya perlahan.
"Iya sayang... jangan nangis... mama di sini..."
Namun Ameera seperti tak mau berhenti.
Tangisnya memenuhi kamar.
Suara itu sampai terdengar keluar.
Beberapa detik kemudian pintu kamar diketuk cepat.
"Bulan? Kenapa itu?" suara Mami terdengar khawatir.
Pintu terbuka.
Mami masuk dengan langkah tergesa.
"Ya Allah, kenapa cucu Mami nangis sampai begitu?" katanya panik namun tetap berusaha lembut.
Bulan terlihat kewalahan.
"Aku nggak tahu, Mi... tadi tiba-tiba..."
Gala sudah berdiri tepat di samping mereka, wajahnya benar-benar tegang.
"Dia nggak kenapa-kenapa kan?" tanyanya, suaranya lebih pelan sekarang tapi jelas cemas.
Mami mendekat, membantu mengusap kepala Ameera.
"Coba kasih Mami dulu."
Bulan menyerahkan Ameera dengan hati-hati.
Tangisan masih keras, tapi Mami mulai mengayun dengan ritme yang lebih teratur.
"Shh... shh... cucu Oma... jangan nangis..."
Gala berdiri kaku, tangannya mengepal gelisah. Ia terlihat jauh lebih panik daripada yang ia tunjukkan.
"Aku bikin dia kaget ya..." gumamnya pelan, lebih kepada dirinya sendiri.
Bulan mendengar itu.
Untuk sesaat, ia menatap Gala.
Wajah pria itu benar-benar pucat.
Cemas.
Takut.
Tidak ada ego di sana.
Hanya seorang ayah yang khawatir.
Tangisan Ameera perlahan mulai mereda, meski masih sesenggukan kecil.
Mami menoleh pada mereka berdua.
"Kalian tadi tegang ya?" tanyanya lembut namun penuh arti.
Tidak ada yang menjawab.
Karena jawabannya jelas.
Mami tersenyum tipis.
"Anak kecil itu peka. Dia belum mengerti kata-kata... tapi dia bisa rasa."
KAMU SEDANG MEMBACA
GALLAN
RomanceTidak ada yang tau mengenai garis takdir yang sudah di tentukan oleh Tuhan.Bulan seorang wanita karir yang sampai saat ini belum menikah juga semenjak dijadikan taruhan oleh mantan pacarnya. Tanpa di duga enam tahun mereka berpisah. kini mereka ha...
