Fifty Six

1K 26 1
                                        

Happy Reading

Setelah tawa kecil itu mereda, suasana kembali tenang.

Ameera sudah tertidur lagi di pelukan Gala. Rumah kecil itu hening, hanya terdengar suara napas bayi yang teratur dan detak jam dinding yang pelan.

Bulan masih bersandar di bahu Gala.

Awalnya hanya sekadar iseng, sekadar meredakan suasana.

Tapi lama-lama ia tidak ingin berpindah.

Pelukan Gala terasa berbeda dari dulu.

Dulu, ia sering merasa dipeluk tapi tidak benar-benar ditemani. Sekarang... justru terasa sebaliknya. Ada ketenangan yang tidak dibuat-buat. Tidak dipaksakan.

Gala menyadari Bulan tidak bergerak.

"Kamu ngantuk?" tanyanya pelan.

Bulan menggeleng kecil, wajahnya masih menempel di dada Gala.

"Nggak."

"Terus?"

Bulan terdiam sebentar sebelum menjawab jujur.

"Aku nyaman."

Jawaban itu membuat tangan Gala yang melingkar di pundaknya sedikit mengencang. Bukan posesif. Bukan menahan. Hanya memastikan ia tetap di sana.

"Baru sekarang?" godanya pelan.

Bulan mencubit pinggangnya pelan tanpa mengangkat kepala. "Jangan rusak momennya."

Gala tertawa pelan, lalu mengusap punggung Bulan dengan gerakan lembut dan ritmis.

"Dulu aku sering pura-pura kuat," gumam Bulan pelan. "Padahal sebenarnya aku cuma pengen dipeluk kayak gini."

Gala menunduk sedikit, mendengar jelas pengakuan itu.

"Kenapa nggak bilang?"

"Aku takut kamu anggap aku lemah."

Gala langsung menggeleng.

"Kamu tuh kuat banget. Justru kalau kamu bersandar kayak gini... itu bukan lemah. Itu percaya."

Bulan terdiam.

Ia menyadari sesuatu.

Selama ini ia selalu jadi yang bertahan. Yang menahan. Yang menutup diri supaya tidak terluka lagi.

Tapi pagi itu, di sofa kecil rumah baru mereka, ia membiarkan dirinya jatuh ke dalam pelukan Gala tanpa takut.

Dan rasanya... hangat.

Tidak ada tegang.

Tidak ada ragu.

Gala memiringkan kepalanya sedikit hingga pipinya menyentuh rambut Bulan.

"Aku seneng kamu nyaman sama aku lagi," bisiknya pelan.

"Kenapa 'lagi'?" tanya Bulan setengah berbisik.

"Karena dulu kamu sering jauh walaupun duduk di sampingku."

Kalimat itu membuat dada Bulan sedikit sesak.

Ia tahu itu benar.

Sekarang justru ia merasa lebih dekat, meski tidak banyak kata.

Beberapa menit berlalu tanpa percakapan.

Bulan bisa mendengar detak jantung Gala. Stabil. Tenang.

Aneh, pikirnya. Detak itu dulu sering membuatnya gelisah. Sekarang justru menenangkan.

Tangannya perlahan mencengkeram sedikit bagian kaos Gala.

Refleks.

Seperti takut terlepas.

GALLANCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang