Happy Reading
Rumah itu masih terasa asing.
Namun anehnya, tidak terasa jauh.
Bulan berdiri di ruang tengah cukup lama, jemarinya masih menggenggam tangan Gala. Ameera yang berada dalam gendongan ayahnya mengeluarkan suara kecil, seolah ikut mengisi keheningan yang penuh makna itu.
Lampu-lampu rumah menyala lembut, menciptakan bayangan hangat di dinding. Tidak ada dekorasi ulang tahun berlebihan. Tidak ada balon. Tidak ada tulisan besar.
Hanya rumah.
Dan itu justru terasa lebih dalam.
Bulan berjalan pelan menyusuri setiap ruangan. Ia membuka lemari dapur—sudah ada piring, gelas, bahkan botol susu kecil untuk Ameera tersusun rapi. Ia masuk ke kamar utama—seprai warna lembut yang jelas bukan pilihan asal-asalan.
"Kamu pilih ini semua sendiri?" tanyanya pelan tanpa menoleh.
"Iya," jawab Gala jujur.
"Aku sempat bingung soal warna. Tapi aku ingat kamu nggak suka yang terlalu terang."
Bulan menutup mata sesaat.
Ia tidak tahu harus merasa apa.
Terharu.
Takut.
Bahagia.
Semua bercampur.
Selama ini ia selalu merasa sendirian dalam memikirkan masa depan. Selalu bersiap kalau-kalau harus kuat sendiri. Selalu menahan diri agar tidak terlalu berharap.
Tapi sekarang... seseorang berdiri di belakangnya, benar-benar menyiapkan masa depan itu.
"Sejak kapan?" tanya Bulan pelan.
"Beberapa bulan lalu."
"Waktu kita masih nggak baik-baik saja?"
"Iya."
Bulan menoleh cepat.
"Kenapa kamu tetap beli?"
Gala tersenyum kecil, tipis.
"Karena meskipun kita lagi nggak baik, aku nggak pernah mau berhenti jadi suami kamu."
Kalimat itu membuat napas Bulan tercekat.
Bukan karena romantis berlebihan.
Tapi karena terasa jujur.
Mereka kembali ke ruang tengah. Gala meletakkan Ameera di atas karpet yang sudah disiapkan. Bayi kecil itu menggerakkan tangannya, melihat sekeliling dengan mata penasaran.
Seolah rumah itu memang sudah miliknya.
Bulan duduk perlahan di lantai, memperhatikan putrinya.
"Ini semua... buat kami?" suaranya hampir seperti bisikan.
"Buat kita," koreksi Gala lembut.
Hening beberapa detik.
"Aku nggak mau lagi kamu merasa harus membesarkan Ameera sendirian," lanjut Gala pelan. "Aku dengar waktu itu."
Bulan terdiam.
Ia tahu momen apa yang dimaksud.
Malam ketika ia meminta maaf pada Ameera dan berjanji akan kuat walau sendiri.
"Aku bukan marah kamu bilang begitu," tambah Gala.
"Aku cuma... takut kamu benar-benar melakukannya tanpa aku."
Air mata kembali mengalir di pipi Bulan.
KAMU SEDANG MEMBACA
GALLAN
RomanceTidak ada yang tau mengenai garis takdir yang sudah di tentukan oleh Tuhan.Bulan seorang wanita karir yang sampai saat ini belum menikah juga semenjak dijadikan taruhan oleh mantan pacarnya. Tanpa di duga enam tahun mereka berpisah. kini mereka ha...
