Happy Reading
Malam itu rumah sudah kembali sepi setelah acara aqiqah selesai. Kursi-kursi sudah dibereskan, tenda mulai dibongkar. Ameera tertidur lebih cepat karena lelah seharian digendong banyak orang.
Bulan duduk di tepi ranjang, mengganti baju bayinya dengan hati-hati.
Tiba-tiba ponsel Gala berdering.
Ia melihat layar, wajahnya berubah serius. Ia menjauh sedikit ke dekat jendela.
"Iya?" jawabnya singkat.
Beberapa detik hening.
"Oke. Besok pagi?"
Ia menghela napas. "Baik. Siapkan tiketnya."
Bulan mendengar sebagian percakapan itu, tapi pura-pura tidak peduli.
Setelah telepon ditutup, Gala berdiri diam beberapa saat sebelum akhirnya keluar kamar menemui mertuanya di ruang tengah.
"Mi, Pi... saya harus ke Singapura lagi. Ada urusan mendadak," ucapnya sopan.
Mami terlihat kaget. "Sekarang?"
"Subuh berangkat."
Papi Bulan mengangguk pelan. "Kerjaan?"
"Iya pi"
Tidak banyak penjelasan.
Setelah itu, Gala kembali ke kamar.
Bulan masih duduk di tempat yang sama, seolah tidak terjadi apa-apa.
"Aku harus ke Singapura besok pagi," kata Gala pelan.
"Oh." Jawaban Bulan datar.
Gala mendekat ke box bayi. Ia mengusap kepala kecil Ameera dengan lembut.
"Papa pergi sebentar ya, adek," bisiknya lirih. "Nanti papa balik."
Ia menunduk cukup lama, seolah menyimpan sesuatu yang berat di dadanya.
Lalu ia menoleh ke arah Bulan.
"Aku pamit."
Bulan akhirnya menatapnya. Ada sesuatu di matanya—bukan marah, bukan sedih—lebih seperti... penasaran yang tertahan.
Tiba-tiba ia bertanya, suaranya tenang tapi tajam,
"Kamu ke Singapura... sama Viska?"
Pertanyaan itu menggantung di udara.
Gala terdiam sepersekian detik.
Lalu ia mengangguk pelan.
"Iya. Satu tim."
Jawaban jujur.
Tanpa pembelaan.
Tanpa penjelasan panjang.
Dan seketika—
Wajah Bulan berubah.
Tatapannya mengeras.
"Oh."
Hanya satu kata.
Namun jarak itu kembali terasa.
Ia berdiri, memunggungi Gala.
"Ya sudah. Hati-hati."
Nada suaranya kembali dingin. Formal. Seperti orang asing.
Egonya muncul lagi.
Dinding yang tadi siang sedikit retak, kini terasa berdiri utuh kembali.
Gala melihat perubahan itu. Ia tahu apa arti tatapan itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
GALLAN
RomanceTidak ada yang tau mengenai garis takdir yang sudah di tentukan oleh Tuhan.Bulan seorang wanita karir yang sampai saat ini belum menikah juga semenjak dijadikan taruhan oleh mantan pacarnya. Tanpa di duga enam tahun mereka berpisah. kini mereka ha...
