Fifty Three

1.3K 37 2
                                        

Happy Reading

Malam itu belum benar-benar berakhir.

Setelah kue dipotong dan doa-doa diucapkan, suasana berubah menjadi lebih santai. Musik pelan mengalun dari sudut ruangan. Tawa terdengar di berbagai meja kecil yang mulai terpisah menjadi kelompok-kelompok obrolan.

Mama dan Papa Gala duduk berdampingan dengan maminya Bulan, berbincang hangat tanpa lagi ada kecanggungan seperti dulu. Langit tertawa lepas bersama Priska dan Kei, sementara Dirga yang lima tahun itu sibuk berlari kecil mengitari kursi, sesekali berhenti hanya untuk memastikan Ameera masih tertawa melihatnya.

Bulan berdiri beberapa langkah dari keramaian, memandangi semuanya.

Hatinya penuh.

Terlalu penuh sampai ia sulit menjelaskannya.

Gala menghampirinya dari belakang, berdiri di sampingnya tanpa menyentuh lebih dulu.

"Kamu capek?" tanyanya pelan.

Bulan menggeleng pelan. "Enggak."

Ia menatap ruangan lagi.

"Aku cuma... nggak nyangka."

"Nyangka apa?"

"Kalau kita bisa sampai di titik ini."

Gala tersenyum kecil.

"Aku juga nggak nyangka dulu."

Beberapa detik mereka hanya berdiri berdampingan, memandangi keluarga dan teman-teman mereka yang bercampur jadi satu. Tidak ada lagi kubu. Tidak ada lagi jarak.

Mama Gala tiba-tiba mendekat dan menggandeng tangan Bulan.

"Boleh Mama ngomong sebentar?" tanyanya lembut.

Bulan mengangguk.

"Terima kasih sudah bertahan," ucap Mama Gala tulus. "Mama tahu nggak mudah. Tapi melihat kalian malam ini... Mama bangga."

Kalimat itu sederhana, tapi berarti besar.

Karena dulu, restu dan penerimaan terasa begitu berat.

Kini semuanya terasa ringan.

Di sisi lain ruangan, Papa Gala memanggil Gala dengan isyarat kecil. Ketika Gala mendekat, papanya menepuk bahunya.

"Kamu sudah jauh berubah," katanya singkat.

Gala hanya tersenyum kecil.

"Jangan ulangi kesalahan yang sama," lanjutnya.

"Iya, Pa."

Malam semakin larut, tapi tak satu pun dari mereka terburu-buru pulang. Seolah semua ingin memperpanjang momen langka itu.

Priska akhirnya mendekat ke Bulan dan berbisik pelan, "Gue nggak pernah lihat lo setenang ini."

Bulan tersenyum tipis. "Aku juga baru ngerasain."

"Dia serius, Bulan," tambah Kei yang ikut menyela. "Kelihatan banget."

Bulan menoleh ke arah Gala yang sedang menggendong Ameera sambil bercanda dengan Dirga.

Ia melihatnya dengan cara yang berbeda malam itu.

Bukan lagi sebagai pria yang pernah mengecewakannya.

Tapi sebagai ayah yang sabar.

Sebagai suami yang belajar rendah hati.

Sebagai seseorang yang berusaha.

Dan mungkin, itu yang paling penting.

Beberapa saat kemudian, Gala berdiri lagi dan mengetuk gelasnya pelan, meminta perhatian.

GALLANCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang