HAPPY READING
Hari-hari setelah pagi itu berjalan lebih tenang.
Tidak ada perubahan besar yang dramatis.
Tidak ada pelukan tiba-tiba.
Tidak ada kata "aku maafkan kamu" yang diucapkan dengan air mata.
Tapi ada sesuatu yang pelan-pelan bergeser.
Gala mulai lebih sering datang pagi sebelum berangkat kerja. Tidak selalu lama. Kadang hanya lima belas menit. Kadang hanya untuk melihat Ameera sebentar lalu pergi. Ia tidak memaksa berbicara panjang dengan Bulan. Ia tidak lagi menuntut perhatian.
Ia hanya hadir.
Dan Bulan... tidak lagi bersikap setajam dulu.
Ia masih cuek.
Masih tidak banyak tersenyum.
Masih jarang menatap lama.
Tapi ia mulai bertanya.
"Sudah makan?"
Pertanyaan sederhana yang dulu terasa biasa, kini bagi Gala seperti hadiah.
Kadang saat Gala hendak pulang, Bulan berkata pelan, "Hati-hati."
Tidak menatap langsung.
Tidak menunggu jawaban panjang.
Namun cukup untuk membuat langkah Gala terasa lebih ringan.
Suatu sore, Ameera rewel cukup lama. Bulan terlihat kelelahan. Wajahnya pucat, matanya kurang tidur.
Tanpa diminta, Gala mengambil alih.
"Biar aku aja."
Ia menggendong Ameera dan berjalan mondar-mandir di ruang tengah. Suaranya pelan menyenandungkan lagu yang bahkan nadanya tak jelas.
Bulan memperhatikan dari sofa.
Dan saat Ameera akhirnya tertidur di bahu Gala, ada ekspresi berbeda di wajah Bulan.
Bukan kagum.
Bukan terharu berlebihan.
Tapi... percaya.
Malam itu saat Gala hendak pulang, Bulan berkata tanpa menatapnya,
"Kalau mau, besok datang agak pagi. Ameera biasanya bangun jam enam."
Gala terdiam beberapa detik.
Ia tahu kalimat itu bukan sekadar informasi.
Itu undangan halus.
Dan sejak hari itu, ia benar-benar datang sebelum jam enam.
Perubahan Bulan memang lambat.
Ia masih menjaga jarak.
Masih belum membicarakan masa lalu secara terbuka.
Namun ia tidak lagi menutup diri sepenuhnya.
Suatu malam saat mereka duduk berdampingan di ruang keluarga—Ameera tertidur di pangkuan Bulan—Gala memberanikan diri berbicara.
"Aku tahu semuanya nggak bisa balik kayak dulu."
Bulan tidak menyahut, tapi ia mendengar.
"Aku juga nggak minta langsung dipercaya lagi," lanjut Gala pelan. "Aku cuma pengen dikasih kesempatan buat buktiin."
Hening beberapa detik.
Lalu Bulan menjawab pelan,
"Aku lagi belajar."
KAMU SEDANG MEMBACA
GALLAN
Roman d'amourTidak ada yang tau mengenai garis takdir yang sudah di tentukan oleh Tuhan.Bulan seorang wanita karir yang sampai saat ini belum menikah juga semenjak dijadikan taruhan oleh mantan pacarnya. Tanpa di duga enam tahun mereka berpisah. kini mereka ha...
