Fifty Seven

1.1K 24 2
                                        

Happy Reading

Weekend datang dengan suasana yang jauh lebih santai.

Gala benar-benar menepati janjinya. Pagi-pagi ia sudah menjemput Bulan dan Ameera dari rumah Mami. Tidak ada drama, tidak ada kecanggungan—hanya senyum kecil dan tatapan yang terasa lebih hangat dari biasanya.

Sekarang mereka bertiga sudah kembali di rumah kecil itu.

Rumah yang perlahan mulai terasa hidup.

Tidak ada rencana besar hari itu. Tidak ada agenda produktif. Hanya hari biasa yang ingin mereka nikmati.

Bulan mengenakan kaos longgar dan celana rumah, rambutnya diikat asal. Ia mulai merapikan barang-barang kecil yang masih berantakan—botol susu, selimut bayi, frame foto, lilin kecil, tanaman hias mungil yang baru dibelinya.

Ia memindahkan vas kecil ke sudut meja, lalu mundur sedikit.

"Menurut kamu bagus di sini atau di sana?" tanyanya sambil menunjuk dua posisi berbeda.

Gala yang sedang tengkurap di karpet sambil bermain dengan Ameera menoleh malas.

"Bagus di mana pun kalau yang ngatur kamu."

Bulan melirik tajam. "Jawaban nggak membantu."

Gala tertawa kecil.

Ia bangkit dan berdiri di belakang Bulan, memperhatikan tata letak ruang tamu yang perlahan berubah jadi lebih rapi dan... aesthetic.

"Kamu seneng ya bikin rumah kayak gini?" tanyanya pelan.

"Iya," jawab Bulan jujur. "Aku pengen rumah ini nyaman dilihat. Biar kalau lagi capek, rasanya enak."

Gala memperhatikan wajahnya yang serius menggeser frame foto sedikit demi sedikit.

Lucu, pikirnya.

Istri yang dulu sering menangis sendirian itu sekarang sibuk menata rumah kecil mereka dengan penuh perhatian.

Menjelang sore, rumah sudah jauh lebih rapi. Aroma diffuser lembut menyebar. Cahaya matahari senja masuk dari jendela, membuat ruangan terasa hangat.

Malamnya, setelah Ameera tidur lebih cepat dari biasanya, mereka duduk santai di ruang tengah.

Bulan bersandar di sofa, kaki sedikit diluruskan karena pegal seharian beres-beres.

Gala duduk di sampingnya, memperhatikan wajahnya yang terlihat lelah tapi puas.

"Kamu cocok jadi interior designer," godanya.

"Kalau kliennya cerewet kayak kamu, aku tolak."

Gala terkekeh kecil.

Beberapa detik hening.

Lalu dengan wajah sok serius, Gala menoleh.

"Bulan."

"Hm?"

"Rumahnya udah makin hidup ya."

"Iya."

"Kayaknya kurang satu deh."

Bulan mengernyit. "Kurang apa?"

Gala mendekat sedikit, nada suaranya berubah jadi lebih tengil.

"Kurang satu bayi lagi."

Bulan langsung menoleh cepat.

"Hah?"

"Iya. Biar rame. Biar Ameera ada adek."

Bulan menatapnya tidak percaya.

"Ameera baru berapa bulan, Gala."

"Makanya. Biar nggak terlalu jauh jaraknya."

GALLANCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang