Happy Reading
Lampu kamar sudah dimatikan.
Hanya cahaya temaram dari luar jendela yang masuk tipis, membentuk bayangan lembut di dinding. Suasana hening, terlalu hening untuk dua orang yang sama-sama masih terjaga.
Bulan memejamkan mata, mencoba tidur.
Tapi ia tahu Gala belum.
Napas pria itu terdengar berbeda. Berat. Seperti ada sesuatu yang ingin keluar.
"Bulan..." suara Gala pelan, hati-hati.
"Iya?"
"Kita boleh deep talk malam ini?"
Bulan membuka mata perlahan.
Nada suaranya bukan bercanda. Bukan ringan. Tapi serius. Dalam.
"Sekarang?" tanyanya pelan.
"Iya. Kalau kamu nggak capek."
Bulan menatap langit-langit sebentar, lalu kembali menoleh ke arahnya.
"Apa yang mau kamu bahas?"
Gala menarik napas panjang.
"Semua."
Satu kata itu menggantung.
Bulan tidak langsung menjawab. Tapi ia mengangguk kecil.
"Baik."
Gala bergeser sedikit, memposisikan tubuhnya menghadap Bulan. Jarak di antara mereka tidak terlalu jauh sekarang.
"Aku mau mulai dari minta maaf," ucapnya pelan. "Bukan cuma karena kesalahan yang kelihatan. Tapi juga karena yang nggak kelihatan."
Bulan diam. Mendengarkan.
"Aku egois," lanjutnya. "Aku pikir waktu itu aku cuma lagi stres. Lagi banyak pikiran. Tapi aku lupa... kamu juga lagi berjuang."
Suara Gala mulai sedikit bergetar.
"Aku nggak ada waktu kamu hamil. Bahkan waktu pergi ke desa itu... aku biarin."
Kata itu berat.
Bulan menelan ludah pelan.
Gala menatapnya langsung sekarang.
"Gimana kamu waktu itu?"
Pertanyaan itu sederhana.
Tapi dalam.
Bulan terdiam lama.
Ia tidak pernah benar-benar menceritakan bagian itu.
"Aku takut," jawabnya akhirnya, suaranya pelan. "Takut sendirian. Takut melahirkan tanpa kamu. Takut kalau sesuatu terjadi sama bayi kita dan kamu nggak ada."
Mata Gala mulai memanas.
"Di rumah kampung itu... semua orang baik," lanjut Bulan. "Tapi mereka bukan kamu."
Suara itu pecah sedikit.
"Malam-malam aku sering nangis sendiri. Bukan karena sakit. Tapi karena ngerasa... kok aku sendirian banget."
Gala menutup mata sebentar, menahan rasa bersalah yang datang bertubi-tubi.
"Kamu tahu nggak rasanya kontrol kandungan sendirian?" tanya Bulan pelan. "Duduk di ruang tunggu lihat suami lain pegang tangan istrinya. Sementara aku cuma pegang tas sendiri."
Air mata mengalir pelan di pipinya.
Gala tidak menyela.
Ia membiarkan semuanya keluar.
KAMU SEDANG MEMBACA
GALLAN
RomanceTidak ada yang tau mengenai garis takdir yang sudah di tentukan oleh Tuhan.Bulan seorang wanita karir yang sampai saat ini belum menikah juga semenjak dijadikan taruhan oleh mantan pacarnya. Tanpa di duga enam tahun mereka berpisah. kini mereka ha...
