Fifty One

1.2K 44 2
                                        

Happy Reading

Hari-hari menjelang ulang tahun Bulan berjalan lebih cepat dari biasanya.

Seminggu tersisa.

Lalu lima hari.

Lalu tiga.

Gala semakin sering menghilang beberapa jam setelah pulang kerja. Alasannya tetap sama—"ada urusan." Ia tidak berbohong, tapi juga belum siap menjelaskan.

Rumah kecil itu kini hampir selesai.

Ruang tamu sudah tertata. Sofa abu-abu sederhana dengan bantal kecil warna krem. Di dinding, Gala memasang satu bingkai besar yang masih kosong—ia berniat mengisinya dengan foto pertama mereka bertiga nanti.

Di kamar utama, ia menaruh satu meja rias kecil. Tidak mahal, tapi cukup elegan. Ia ingat Bulan selalu merapikan rambutnya di depan cermin kecil yang seadanya di rumah maminya.

Di kamar bayi, ia menempel stiker dinding berbentuk bulan kecil dan bintang-bintang. Saat menempelkannya, ia sempat tersenyum sendiri.

"Bulan dan bintang," gumamnya pelan.

Rumah itu bukan megah.

Tapi setiap sudutnya dipikirkan dengan hati.

Sementara itu, di rumah maminya, Bulan mulai merasa ada yang berbeda.

Gala semakin perhatian, tapi tidak berlebihan.

Ia selalu memastikan Ameera tidur dengan nyaman sebelum pulang. Kadang ia sengaja duduk lebih lama hanya untuk berbicara hal-hal kecil.

Suatu malam, Bulan memperhatikannya dari dapur saat Gala tertawa kecil bersama Ameera yang sedang belajar merangkak lebih cepat.

Wajah Gala terlihat tulus.

Lelah, tapi tulus.

Dan entah kenapa, dada Bulan terasa hangat melihatnya.

Ia masih berhati-hati.

Masih menjaga jarak emosionalnya.

Namun ia tidak bisa menyangkal bahwa pria itu benar-benar berubah.

Dua hari sebelum ulang tahunnya, Gala tiba-tiba bertanya,

"Kamu ada rencana hari Jumat?"

"Hari ulang tahunku?" tanya Bulan balik.

"Iya."

Bulan menggeleng. "Nggak ada."

Gala menahan senyum tipis. "Jangan pergi ke mana-mana sore ya."

"Kamu mau ngapain?"

"Rahasia."

Bulan menghela napas kecil, tapi kali ini tidak menolak.

*****

Akhirnya hari itu datang.

Pagi ulang tahun Bulan dimulai sederhana.

Ameera terbangun lebih dulu dan, dengan bantuan Gala yang sengaja datang sangat pagi, mereka berdua berdiri di depan tempat tidur.

"Happy birthday..." bisik Gala pelan sambil menggerakkan tangan kecil Ameera seolah ikut melambai.

Bulan membuka mata perlahan.

Melihat dua sosok itu di hadapannya.

Ameera yang tersenyum tanpa mengerti apa-apa.

Dan Gala yang menatapnya dengan ekspresi lembut.

"Selamat ulang tahun," ucap Gala lebih pelan. "Terima kasih sudah lahir."

Kalimat itu sederhana.

Tapi membuat mata Bulan sedikit berkaca.

GALLANCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang