Forty Four

1.5K 43 6
                                        

Happy Reading

Malam mulai turun perlahan.

Setelah makan malam sederhana bersama keluarga, suasana kembali tenang. Bayi kecil itu sudah tertidur di box-nya. Papi Bulan masuk kamar lebih dulu, Embun membantu merapikan dapur, dan Mami sengaja memberi ruang dengan tidak masuk ke kamar Bulan.

Di dalam kamar, hanya ada Bulan dan Gala.

Gala berdiri cukup lama sebelum akhirnya duduk di kursi dekat pintu. Wajahnya terlihat ragu—seperti ada sesuatu yang sejak tadi ingin ia katakan.

"Bulan..." suaranya pelan.

Bulan yang sedang melipat kain kecil tidak menoleh.

"Apa?"

Gala menarik napas dalam.

"Dua hari lalu... kamu bilang soal perpisahan."

Tangan Bulan berhenti sesaat.

Hening.

Ia tidak menyangkal.

Tidak juga menegaskan.

Gala melanjutkan dengan hati-hati,

"Aku tahu kamu marah. Aku tahu kamu capek. Dan mungkin kamu sudah benar-benar memikirkan itu."

Bulan akhirnya menoleh. Tatapannya datar, tapi tidak kosong.

"Aku cuma nggak mau hidup kayak kemarin-kemarin lagi," jawabnya tenang.

"Aku nggak mau terus sakit."

Kalimat itu jujur. Tanpa nada tinggi.

Gala menunduk kecil.

"Aku nggak akan maksa kamu berubah pikiran sekarang," katanya pelan. "Kalau kamu memang merasa perpisahan itu jalan terbaik... aku nggak bisa tahan kamu."

Suasana terasa berat.

"Tapi..." suara Gala sedikit bergetar, "tolong jangan pisahkan aku dari adek."

Ia menoleh ke arah box bayi.

"Apapun keputusan kamu tentang kita... izinkan aku tetap jadi papanya. Izinkan aku tetap datang. Tetap lihat dia tumbuh."

Bulan diam.

Gala melanjutkan, kali ini lebih dalam.

"Aku mungkin gagal jadi suami yang baik buat kamu. Tapi jangan cabut kesempatan aku buat belajar jadi ayah yang benar."

Matanya terlihat merah, bukan karena menangis keras—tapi karena menahan.

"Aku nggak minta kamu maafkan aku sekarang. Aku cuma minta satu hal... jangan tutup pintu itu buat aku."

Hening memenuhi ruangan.

Bulan menatap bayi kecilnya yang tertidur damai.

Beberapa detik terasa sangat lama.

"Aku nggak pernah bilang kamu nggak boleh ketemu dia," ucap Bulan akhirnya, pelan.

Gala mengangkat wajahnya.

"Tapi aku juga nggak mau kamu datang cuma karena takut kehilangan," lanjut Bulan.

"Kalau kamu datang, datanglah karena kamu mau tanggung jawab. Bukan karena kasihan."

Kalimat itu tegas.

Jelas.

Gala mengangguk cepat.

"Aku datang karena aku mau. Bukan karena takut."

Bulan menatapnya cukup lama.

"Aku belum tahu soal kita," katanya jujur. "Tapi soal dia... dia tetap anak kamu."

GALLANCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang