Chapter # 9

71.6K 4.5K 235
                                        

Rangga Pov

"Kok bisa sih??!" gerutu Olin entah yang keberapa kali sambil memasang wajah kesal dan cemberut.

"Honey cepetan dikit dong!!" ucapnya gusar. Aku hanya mendesah pasrah saja mendengar perintahnya karena jika aku membantah semuanya akan jadi lebih parah. Kami akan berhenti dan itu akan membuat kepalaku semakin pusing dan sakit.

Apa???!

Jangan berfikiran aneh-aneh, apalagi berfikiran mesum tentang apa yang baru aku katakan.

Kepalaku akan pusing kalau Olin marah-marah terus ditengah jalan seperti ini. Saat ini kami dalam perjalanan kembali ke Jakarta dan acara liburan satu minggu gagal total, semua ini karena ulah dua sahabatku, kalian tahu siapa??

Akaela keponakan sekaligus sahabat cantikku dan juga pacar atau musuhnya si Deki. Mereka berbuat mesum di dapur keramat itu dan kali ini mereka kepergok mertuaku tersayang.

Mertuaku tersayang segera menelfon Olin dengan marah-marah dan beberapa detik selanjutnya dia mengemasi baju-baju dan memerintahkan supaya kita semua segera kembali ke Jakarta. Hhh, padahal tadi saat Akaela menelfon aku sengaja tidak memberitahu Olin kalau Akaela menangis histeris. Ditambah lagi disana ada Gill yang pasti akan membuat Olin naik darah. Mereka berdua tidak terlalu akrab, mungkin karena Akaela pernah berciuman dengan Gill? Entahlah...

"Mereka masih muda! Kalau mereka menikah muda tidak ada jaminan mereka akan bahagia bukan?! Dan kalau menikah Akaela bisa apa??? Mengurus dirinya sendiri saja belum bisa apalagi sekarang mengurus suami!!" aku melirik Olin. Dia ini sengaja ya?? Aku, Akaela dan Deki kan seumuran.

"Kalau mereka menikah lalu punya anak bagaimana kuliahnya?? Lalu bagaimana Deki menafkahi Akaela??!" aku menarik nafas dalam-dalam supaya tidak terpancing emosi mendengar gerutuan Olin.

"Mereka-"

"Stop honey!!" seruku akhirnya. Aku tidak ingin mendengar kata-kata Olin lebih jauh dan lebih membuatku kecil.

Dia menoleh padaku dan aku hanya meliriknya, aku mengulurkan tanganku  yang bebas dan menggenggam tangannya yang terasa dingin.

Aku tersenyum padanya, aku tahu rasa kawatirnya karena tidak ingin ada hal buruk terjadi pada Akaela, dia memang  pantas jadi Mama buat Akaela yang sering ditinggal Mariana kerja di luar negeri.

"Aku bahagia kok..." ucapku seraya menoleh padanya dan tersenyum.

Dia mengerutkan keningnya mendengar apa yang baru saja aku ucapkan.

"Aku, Akaela dan Deki seumuran honey... aku bahagia, yah meskipun aku masih belum bisa mengurus diriku sendiri..."

"Eh-" dia terdiam sejenak dan menarik tangannya.

"Maaf..." ucapnya pelan seraya memalingkan wajahnya menatap ke luar kaca mobil.

"Aku tahu kamu kawatir pada Akaela..." aku membelokkan mobil ke kanan dan kami memasuki halaman rumah kami yang sepi. Syukurlah Gill sudah tidak disini kalau dia masih disini pasti akan tambah ramai.

"Honey..." aku memiringkan tubuhku menatapnya yang masih diam dan memandang keluar.

Astaga, pasti aku salah bicara lagi ya??

"Hei..." aku meraih tangannya dan berharap dia menatapku.

Astaga, dia menangis dan itu adalah kelemahanku. Aku tidak bisa melihatnya menangis seperti ini.

"Noney... noney...!!!" jerit Keenan dan kemudian tertawa. Aku menoleh pada Kee yang menatap kami berdua dengan tawa riang yang tidak pernah lepas dari wajah tembemnya.

Suamiku Brondong?! 2 (Sebagian sudah dihapus)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang