Aku kembali menoleh ke dapur dan melihat dua manusia yang sejak dua puluh menit lalu berkutat di dapur, tapi mereka bukan memasak tapi ribut terus.
"Semakin aneh kan?" aku menoleh pada suara yang baru saja melontarkan pertanyaan.
"Setiap hari yang dia bicarakan Rangga... Rangga dan Rangga..." lanjutnya.
"Apa dia berubah jadi biseksual ya Lin?"
"Hussh!! Ngawur!" aku mengibaskan tanganku melihatnya mendesah frustasi.
"Laki sendiri dibilang gitu!" kembali kulayangkan pandanganku pada dapur.
"Noneeyyy!!!" jerit Keenan yang muncul dari tenda mininya.
Dia berlari dan membawa kue lalu diserahkan padaku dan kembali masuk ke tenda.
"Hmmm... Kee... kalau ga suka kue jangan ambil banyak-banyak ya..." Keenan yang kuperingatkan hanya memunculkan kepalanya dan masuk lagi ke dalam tenda.
"Hhhh, mereka berdua lucu sekali... yang satu maniak kue yang satunya ga doyan kue tapi suka ambil kuenya banyak-banyak..."
"Nanti kalau anakmu sudah seumuran mereka kamu pasti ga akan bilang mereka lucu lagi..." aku tersenyum.
"Lo bisa diem ga sih?!" suara keras Rangga dari dapur membuatku menoleh.
"Ya ampun... apa sebaiknya kita makan diluar saja?"
"Mereka berdua seperti Tom and Jerry..." aku mengangguk setuju dengan apa yang diucapkannya.
"Aku rasa nanti bayi ini akan mirip Rangga..." aku menaikkan alisku dan kemudian tertawa bersamaan dengannya.
Ralin, dia wanita yang humoris. Beruntung Dave mendapatkannya. Wanita ini sangat sabar dan baik. Dia tidak pernah cemburu setiap kali Dave menyebutkan namaku ataupun bertemu denganku. Menurut Ralin, tidak ada alasannya dia cemburu denganku karena aku dan Rangga adalah pasangan yang tidak akan terpisahkan. Dan menurutnya aku sejak dulu tidak pernah mencintai Dave, tapi hanya nyaman seperti kakak dan adik.
Kakak dan adik?
Yah, aku rasa benar yang dikatakan Ralin. Aku hanya merasa nyaman dengan Dave. Dia memang pria yang lucu dan enak diajak bicara, bahkan dia tidak akan mengeluh saat aku melampiaskan kekesalanku dengan para client-client.
"Aku rasa Dave ngidam ingin dekat-dekat Rangga..." aku geleng kepala dan tertawa lagi.
"Aku tidak merasakan apa-apa... setiap pagi dia yang pusing dan muntah-muntah..." Ralin menoleh ke dapur dan kembali menatapku.
"Misal nih ya, dikepalaku tiba-tiba berpikir makan nasi goreng pedas enak. Tahu-tahu Dave telfon atau nyeletuk bilang aku ingin sekali makan nasi goreng pedas..." aku mengangguk-angguk.
"Pernah dia bangun malam-malam ingin makan sate, padahal aku mimpi makan sate... aneh ga sih?" aku terkikik mendengar cerita Ralin.
"Hukuman kali ya... dulu waktu hamilnya si Abby dan El Dave kan suka gangguin Rangga yang malam-malam beli makanan karena aku ngidam..." Ralin mengangguk-angguk.
"Tapi ini ngidamnya ekstrim!" Ralin geleng kepala dan aku tertawa.
"Mereka berdua seperti anak kembar ya?" aku menunjuk pada Dave dan Rangga di dapur yang kini sudah kompak membuat tahu telur yang dibuat bulat-bulat.
KAMU SEDANG MEMBACA
Suamiku Brondong?! 2 (Sebagian sudah dihapus)
فكاهةPERINGATAN!! Membaca ini akan membuatmu tersenyum dan tertawa terus. Jadi hati-hati! Rawan dibilang gila. "Cinta??? Ya aku cinta sama suamiku yang brondong. Tapi, dia itu super nyebelin!!" -Pauline Larasati- "Cinta??? Tentu saja! Seluruh dunia juga...
