Di depan ruang operasi terlihat dua keluarga beserta beberapa santri yang menatap cemas pintu bercat putih dengan lampu merah yang menyala di atasnya. Raut kekhawatiran tercetak jelas di wajah gadis yang sejak tadi berjalan mondar mandir di depan pintu itu sesekali ia menggigit kuku jemari tangannya.
" Aduh jan kamu tu bisa diem gak saya itu risih ngeliat kamu mondar mandir gak jelas " Ucap adipati membuat anjani menatapnya kesal.
" Mas adipati bisa diem gak? Aku tuh lagi khawatir "
" Saya tahu kamu itu lagi khawatir cuma kalo kamu terus terusan seperti itu saya ngeliatnya pusing tahu gak "
" Ya mas adipati gak usah lihat "
" Gimana gak ngeliat orang kelihatan "
" Sudah sudah jangan ribut. Sebaiknya kita berdoa demi keselamatan pangeran " Ucap ustadz makmun menengahi.
" Iya ayah "
" Baik pak ustadz "
Beberapa menit kemudian akhirnya seorang dokter keluar dari ruang operasi di temani dengan seorang suster di sampingnya. Anjani menatap cemas raut wajah sang dokter yang terlihat sedih.
" Bagaimana keadaan anak saya dokter " Rini bertanya takut takut. Gelengan lemah adalah bentuk jawaban yang tidak bisa ia keluarkan.
" Apa maksud dokter " Kali ini yahya bertanya dengan tak sabaran.
" Maaf " Satu kata yang lolos dari bibir sang dokter mampu membuat emosi yahya memuncak iapun dengan segera mencengkeram jas putih yang di kenakan oleh dokter itu.
" Saya tidak butuh kata maaf dokter. Tolong ucapkan dengan jelas "
" Yahya tenang lah kamu harus sabar " Ucap ustadz makmun menengahi. Perlahan tapi pasti cengkeraman di kerahnya mengendur dan terlepas. Setelah berdeham sejenak dokter itupun mulai menjelaskan.
" Seperti yang saya katakan sebelumnya pangeran mengalami luka yang cukup parah hingga terjadinya pendarahan yang cukup hebat. Kami para dokter pun sempat di buat terkejut karena di tengah tengah operasi pendarahan itu mulai terhenti namun itu hanya sesaat sebelum kami menyelesaikan operasinya detak jantung pangeran melemah secara mendadak. " Tuturnya membuat yahya menatapnya heran.
" Lalu apa yang terjadi dokter? " Tanyanya lagi menuntut.
" Mohon maaf pangeran tidak bisa kami selamatkan. Dia meninggal dunia "
" Ya allah papahhh " Rini menjerit histeris.
" Mah tenang mah " Ucap yahya menenangkan namun yang terjadi selanjutnya adalah rini tak sadarkan diri dalam pelukannya.
" Mah.. Mah.. " Panggilnya menepuk pelan pipi sang istri. Sementara itu anjani menggelengkan kepalanya dan bergumam pelan
" Enggak.. Enggak mungkin.. " Ucapnya sambil meremas rambutnya. Aida yang melihatnya dengan segera menghampirinya.
" Anjani kamu tenang yah "
" Enggak kak enggak mungkin pangeran ninggalin aku.. Enggak " lirihnya pelan
" Anjani tenangkan diri kamu " Ucap ustadz makmun yang tak tega melihatnya.
" Enggak.. " Balas anjani pelan. Setelahnya reaksi yang di berikan anjani membuat semua mata tertuju padanya ia yang tengah mencengkeram kerah sang dokter bertanya dengan tak sabaran.
" Dokter katakan semua ini bohong dokter. Katakan kalo pangeran itu baik baik aja dokter. Aku mohon dokter aku mohon hiks hiks " Ucapnya memilukan. Dokter itu hanya menatapnya iba ia pun hanya mampu menggelengkan kepalanya lemah.
KAMU SEDANG MEMBACA
RANJANI_True Love Never End
FanfictionKisah ini tentang antara cinta dan benci kisah cinta yang tak pernah mati. Pangeran yang hidup kembali di jaman modern demi menemukan cinta sejatinya, anjani yang tak pernah ia sadari bahwa mereka adalah sepasang kekasih di masa lalu yang terpisahka...
