Sesampainya di kantor pangeran melihat ada keributan di depan kantornya. Para staf dan karyawan yang baru datang terlihat sedang mengerumuni seseorang. Pangeran yang di landa penasaran langsung menghampiri dan menyingkirkan beberapa orang orang yang menghalangi jalannya.
" Permisi.. Ada apa ini? " Tanyanya pada salah satu karyawannya.
" I.. itu pak ada yang pingsan pak " Jawab luna sambil menunjuk seorang wanita yang tengah tergeletak di lantai. Karena wajah wanita itu tertutupi oleh rambutnya dan ia menghadap memunggungi pangeran. Pangeran yang di landa penasaran langsung menghampirinya biar bagaimanapun ini adalah hotelnya ia harus bertanggung jawab jika seseorang terjatuh pingsan seperti itu.
Ketika pangeran menyentuh bahunya dan membalikkan tubuh wanita itu matanya langsung terbelalak ia sangat terkejut karena wanita itu ternyata adalah anjani. Dengan segera pangeran langsung merangkulnya dan meletakan kepala anjani ke pangkuannya.
" Anjani.. anjani bangun anjani " Ucapnya menepuk nepuk pipi anjani. Anjani terlihat sangat lemah tubuhnya mengeluarkan hawa panas dan wajahnya sangat pucat bahkan lebih pucat dari kemarin ia membawanya.
" Heh tarsanwati bangun.. Tarsanwati " Panggilya lagi namun tetap tak ada jawaban pangeran kalut. Ia benar benar panik sekarang apalagi melihat kondisi anjani yang sangat mengkhawatirkan.
" Heh kenapa kalian semua diam saja cepat panggilkan ambulans " Teriaknya pada seluruh karyawannya.
" Pak jika kita memanggil ambulans itu akan membutuhkan banyak waktu lebih baik kita membawanya dengan mobil saya. Saya akan mengantarkan bapak kerumah sakit sekarang juga " Ujar evan menyarankan pangeran lalu mengangguk setuju.
" Iya kamu benar juga. Kalo begitu ayo siapkan mobilnya. "
" Biarkan saya yang membawanya. " Lanjutnya lagi saat evan ingin membantu membopong anjani dan dengan segera ia menggendong tubuh anjani.
" Evan tolong di percepat. " Perintah pangeran padanya. Evan hanya tersenyum menatap wajah bosnya itu dari balik kaca spion. Sejak tadi bosnya itu terlihat khawatir dan selalu mengatakan hal yang sama di sepanjang perjalanan.
" Sepertinya bapak sangat mencintainya " Bukannya menjawab evan malah mengatakan sesuatu yang membuat pangeran kesal.
" Itu bukan urusan kamu. Cepatlah! " Titahnya lagi dengan nada tegas. Ia mengusap keringat di kening anjani dan mengelus rambutnya sayang. Terlihat raut kekhawatiran yang tak bisa lagi ia sembunyikan.
****
" Jadi bagaimana dok? Apa dia baik baik saja? Apa yang terjadi padanya? Apa dia bisa sembuh? " Belum sempat dokter jeane menjawab pangeran sudah memotongnya.
" Tolong katakan dok apa yang harus di lakukan saya bayar berapapun asalkan dia sembuh dok " Potongnya cepat sementara dokter jeane hanya menggelengkan kepalanya. Baru beberapa menit yang lalu pangeran memasuki rumah sakit dengan tergesa gesa membawa tubuh anjani ia bahkan sampai berteriak teriak pada suster di rumah sakit yang membuat beberapa staf rumah sakit memandanginya dengan heran. Dan sesampainya di ruang pemeriksaan ia terus mengoceh ini dan itu padahal dokter jeane masih memeriksa kondisi anjani namun pangeran terus saja bertanya ini dan itu yang membuat dokter berusia 25 tahun itu menggelengkan kepalanya.
" Tenang lah pak pangeran istri anda tidak apa apa, dia hanya demam dan sepertinya dia mengalami stres ringan di tambah perutnya dalam keadaan kosong. Itulah sebabnya ia pingsan. " Mendengarnya pangeran menghela nafas lega karena tidak terjadi sesuatu yang buruk. Dan setelahnya pangeran menatap anjani iba ia merasa bersalah karena kemarin ia sudah bersikap keterlaluan pada anjani.
" Dokter apa dia perlu di rawat inap? " Tanya pangeran sambil mengelus helaian rambut anjani.
" Untuk sementara ia memang harus di rawat karena kondisi pasien yang lemah juga demamnya yang tinggi. "
KAMU SEDANG MEMBACA
RANJANI_True Love Never End
FanficKisah ini tentang antara cinta dan benci kisah cinta yang tak pernah mati. Pangeran yang hidup kembali di jaman modern demi menemukan cinta sejatinya, anjani yang tak pernah ia sadari bahwa mereka adalah sepasang kekasih di masa lalu yang terpisahka...
