Part 69

253 11 0
                                        

Di sebuah taman pangeran duduk termenung dengan kedua tangannya yang saling bertautan matanya menatap kosong rerumputan di kakinya beberapa kali ia menghela nafasnya gusar danau yang terlihat tenang di hadapannya pun tak mampu membuatnya merasakan ketenangan. Kilasan bayangan seorang gadis yang ia cintai terus berputar di kepalanya.

" Anjani kenapa lo tega banget sama gue? Kenapa lo gak nungguin gue sadar? Dan kenapa lo malah menikah sama bara " Ucapnya sarat akan kekecewaan. Anjani yang melihatnya dari kejauhan mencoba menghampirinya. Dan saat hendak melangkah lebih dekat ia mendengarkan penuturan pangeran.

" Sekarang gue harus gimana? Gue gak bisa hidup tanpa lo. Semua perjuangan gue berakhir sia sia " Mendengarnya anjani menghapus jejak air matanya.

" Kata siapa semuanya berakhir sia sia? " Ucap anjani membuka suara. Sontak pangeran menoleh kearah nya.

" A..anjani " Panggilnya tak percaya. Anjani tersenyum menatapnya penuh cinta.

" Pangeran " Lirih anjani pelan dengan segera pangeran berdiri dan setengah berlari kearahnya dan langsung memeluknya erat ia bahkan mengangkat tubuh kekasihnya dan memutar nya pelan.

" Pangeran pangeran turunin. Nanti gaun aku rusak "

" Sorry sorry sorry.. Gue terlalu bersemangat " Ucapnya sambil melepaskan pelukannya. Anjani tertawa mendengarnya di susul dengan pangeran yang ikut tertawa di buatnya. Mereka menatap sekeliling terlihat beberapa orang yang berada di sekitarnya menatapnya heran. Namun tiba tiba ia merasakan ngilu di perutnya.

" Aduh " Pangeran meringis menyentuh perutnya.

" Pangeran kamu kenapa? " Tanya anjani cemas.

" Perut aku sakit "

" Ya ampun pasti gara gara kamu ngangkat aku tadi yah? Kamu jadi kesakitan kaya gini. " Kata anjani merasa bersalah. Mendengarnya pangeran menggelengkan kepalanya.

" Enggak enggak bukan salah lo kok. Gue gak apa apa "

" Beneran kamu gak kenapa kenapa? " Tanya anjani memastikan. Pangeran lalu mengelus pipinya pelan.

" Iyah. Emm.. Kita duduk disana aja yah " Anjani melirik kursi panjang di sampingnya iapun menganggukkan kepalanya.

" Yaudah ayo aku bantuin kamu yah "
Ucapnya yang kemudian merangkul pangeran dan memapahnya pelan.

***

" Aku bangga akhirnya kamu mengambil keputusan yang tepat " Ucap ayana yang kemudian duduk di samping bara

" Yah mau gimana lagi. Anjani  mencintai pangeran dan selamanya akan tetap begitu. Gue gak mau terus terusan berada di antara mereka " Sahut bara pelan

" Syukulah kalo kamu udah sadar. Dengan begitu pangeran dan anjani bisa bersatu "

" Iyah "

" Tapi apa yang membuat kamu berubah pikiran? " Tanya ayana dengan raut bingung karena setahunya bara adalah orang yang keras kepala.

" Gue cuma inget ucapannya aida " Jawab bara menatapnya tersenyum.

" Ucapannya aida "

Flashback

" Kalo kamu mencintai seseorang. Kamu harus rela melepaskannya, meskipun berat melakukannya. Tapi setidaknya itu lebih baik daripada kamu terus menerus memaksakan kehendak kamu dan akhirnya kamu pun akan menderita karenanya. " Tutur aida yang tengah menatapnya sambil tersenyum.

" Anjani kenapa lo ngomong gitu apa lo gak cinta sama pangeran? Apa lo gak mau memiliki dia " Bara bertanya dengan raut heran.

" Aku emang cinta sama pangeran. Tapi aku sadar sampai kapan pun pangeran akan tetap mencintai anjani. Cintanya buat aku itu udah gak ada. Dan aku bahagia melihat anjani dan pangeran bahagia. Sama sekali gak ada pikiran aku untuk memisahkan mereka. Karena aku mencintai pangeran dengan tulus tanpa mengharapkan apapun selain kebahagiaannya " Ujarnya dengan senyuman yang tak lepas dari wajahnya. Mendengarnya bara tersenyum kecut.

RANJANI_True Love Never EndCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang