FL.27

617 15 6
                                        

Davian di sibukkan dengan beberapa meeting, apa lagi sekarang Davian sedang mencoba membuka usaha baru di bidang fashion, dia membuka bisnis baru seperti itu juga karna rengekan Kea, dia ingin berkerja sama dengan Davian. Walaupun sedikit sulit, apalagi dia tidak terlalu perduli dengan fashion. Jadi dia melimpahkan semua tentang bisnis barunya ke Sean.

Sean bisa di bilang orang yang memiliki fashion styles, bahkah pakaian Davian dulu Sean yang merapihkan. Davian terlalu cuek sama dirinya, yang ada di fikirannya dulu hanya kerja dan kerja. Tapi beda sekarang, yang ada di fikirannya saat ini hanya Dirla dan calon anak yang di kandung Dirla.

Dia sangat ingin memiliki keluarga kecil yang sangat bahagia, dia ingin sekali disambut oleh anak dan istrinya saat dia pulang kerja nanti. Mengadakan camping saat weekend, liburan ke taman bermain dan menikmati malam dengan berkumpul dengan keluarganya. Tapi semua keinginannya itu dia simpan rapat-rapat, saat dia mengetahui kanker yang ada di dirinya sudah semakin parah. Dia rutin kemoterapi dan minum obat, tapi entah kenapa penyakitnya itu semakin menggerogoti tubuhnya.

"Mr.Axton. apa anda baik-baik saja?" tanya Sean yang memang sedang berada di ruangan Davian untuk mengecek beberapa berkas. Fokusnya teralihkan karna melihat Davian yang pucat sambil memegangi keningnya. Dengan cepat Sean memberikan air dan cadangan obat Davian yang selalu dia bawa, takut Davian lupa membawa obatnya.

Davian meminum obat itu dengan sekali teguk dan menyenderkan tubuhnya di kursi kebesarannya itu. "Sean" panggilnya sambil memejamkan mata. "Kalau hal buruk terjadi sama aku, tolong jaga Dirla dan baby. Lindungi semua orang yang sangat Dirla sayangi. Jangan sampai perusahaan ini jatuh ke uncle Joy".

"Jangan bicara seperti itu Mr.Axton. melindungi Mrs. Dirla dan baby itu tugas anda. Anda jangan pesimis, saya akan secepatnya mencarikan pendonor". Davian tersenyum sinis mendengar tutur kata Sean yang sangat tulus itu. "Mustahil".

"Davian,,," suara bas khas pria paruh baya membuat Davian membuka matanya lebar-lebar. "Mr.Roxy selamat siang" sapa Sean saat pria paruhbaya itu memasuki ruangan Davian dan duduk di shofa tamu. "Sean, sean,,, masih aja kamu jadi anak buah Davian".

"Kamu boleh keluar Sean" setelah mendapat perintah dari Davian, Seanpun keluar ruangan dan Davian menghampiri pria yang bernama Mr.Roxy. "Ada keperluan apa Mr.Joy Roxy menghampiri saya?". Davian masih terlihat sangat santai, tidak ada lengkungan senyum di jawah Davian. Dia sangat terlihat tidak suka dengan kehadiran pria itu.

"Belum dapet pendonor? Kalo gitu serahin semua perusahaan kamu biar uncle yang akan ngelola. Kamu ga mau karyawan kamu terlantar karna kepergian kamu kan?".

"Anda tidak usah takut kalau perusahaan ini akan bangkrut dan karyawan yang terlantar. Anda ingat istri saya itu salah satu CEO Arkan Group dan anda juga tau Arkan Group itu perusahaan seperti apa. Jadi perusahaan ini aman di tangan istri saya".

Mr.Roxy sangat merasa kesal dengan apa yang di ucapkan Davian. Sudah bertahun-tahun dia berusaha merebut perusaan Axton dan bahkan dia sampai membunuh kakaknya sendiri demi mendapatkan perusahaan. Dan kini perusahaan itu malah jatuh ke tangan putri sulung Kendranata.

"Apa uncle perlu membuat kejadian beberapa tahun lalu terulang lagi? Ah,,, kamu pasti tau maksud uncle" Mr.Foxy bangun dari posisinya dan berdiri di samping Davian.

Tangan Davian mengepal menahan amarah mendengar ucapan unclenya. "Dirla Akifa Arkan itu di kelilingi perusahaan besar, anak kesayangan dari keluarga Dzar, Arkan,
Azhar , Wiratama dan Atmadeva. Anda pasti sangat tidak asing dengan semua nama itu, dalam hitungan detik perusahaan anda akan jatuh kalau anda sampai melukai istri saya".

"Kita lihat saja nanti" Mr.Roxy langsung keluar dari ruangan Davian dengan sangat marah. Sedangkan Davian langsung menghubungi Sean untuk datang keruangannya.

Forbidden Love Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang