1) Bad luck

10.8K 367 81
                                        

Pain? it's okay for me as long as everyone is happy because of me.


-Querencia-

Gadis berambut coklat itu melangkahkan kakinya malas. Pasalnya, ia harus pulang sekolah dengan berjalan kaki. Jarak rumahnya dengan sekolah agak jauh. Kiloan meter harus ia tempuh demi menuju tempat pelampiasan lelahnya.

Alby terus melangkahkan kakinya, dengan kantong hitam yang berada di tangannya. Ia tak memperdulikan ocehan dari orang di sepanjang jalan. Sesekali dia mengambil batu di sekitar jalan dan melemparnya ke orang-orang yang menghinanya.

Suddenly, Alby tidak tahu pasti, seorang pengendara motor dengan cepat melaju tanpa memikirkan Si pejalan kaki yang terkena imbasnya-Alby. Cipratan air keruh yang terletak di jalanan berlubang mengguyur ke sekujur tubuh gadis itu.

Warna cokelat menjijikan telah menutupi seragam putih abu-abunya. Dan sialnya lagi, kantong hitam yang sedari tadi ia jaga pun na'as terjatuh, berserakan dan kotor. Bau menyengat berasal dari tubuhnya membuat Alby meringis sendiri.

Kantong hitam itu berisi sebuah obat untuk mamanya yang sedang mengidap penyakit dan hanya bisa duduk di atas kursi roda. Gadis itu sangat menyesal atas perbuatannya yang telah melenyapkan benda berharga tadi dengan cara yang semiris ini.

Usai membersihkan seragamnya yang kotor, dengan emosi yang mulai membludak, Alby berkacak pinggang sambil menatap punggung Si pengendara motor yang tidak punya rasa iba terhadap dirinya. Pelaku itu malah melaju begitu saja tanpa menoleh seseorang yang telah menjadi korban ugal-ugalannya.

"Woi! Di sini ada orang, jangan main kebut-kebutan! Emang ini jalan nenek lo!?"

Alby berteriak sekeras mungkin, berharap Sang empu mendengar teriakannya. Dan ternyata usahanya berhasil. Kini pelaku tadi berbalik arah menuju ke arahnya.

Emosi Alby mulai menjalar ke seluruh tubuhnya, hingga kepalan panas kedua tangannya telah siap untuk dilemparkan ke wajah pelaku.

Sebuah motor berhenti tepat di hadapannya. Sosok pria turun dari kendaraan beroda dua itu usai melepas helm fullface yang dikenakan. Pria dengan paras sempurna menukikkan alisnya tajam. Ia memakai seragam abu-abu dengan almamater yang berbeda. Pria itu berjalan menghampiri korban dengan tatapan menyebalkan. Tampangnya justru sangat tenang dan tidak merasa berdosa. Walaupun wajahnya bak dewa dan paras yang hampir sempurna, namun kelebihan itu tak membuat nyali Alby menciut.

"Lo punya otak nggak?!"

Bugh!

Satu bogeman panas mendarat tepat di pipi pria itu. Alby memukulnya tanpa ragu. Tak apa baginya, ia tidak merasa dosa, toh dirinya tak bersalah. Sedangkan Sang pria nampak meringis dan memegang ujung bibirnya yang sedikit mengeluarkan cairan merah-perih dan bengkak.

"Kalo naik motor lihat keadaan! Jangan-jangan mata lo minus, ya? Sampai nggak lihat gue?!"

Alby kembali menyentak, tapi Sang pendengar masih tetap dengan posisinya, diam. Pria itu memegang sudut bibirnya yang terasa perih, lalu menatap sinis gadis berseragam putih abu-abu di hadapannya yang dengan lancang memukulnya.

"Di sini banyak pejalan kaki yang lewat, masih untung gue yang jadi korban ugal-ugalan lo, kalo nenek-nenek gimana? Orang berondong kayak gue aja lo nggak peduli!" bentak Alby.

Querencia [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang