Lo aja yang nggak peka dari tadi gue nyetir nggak tahu tujuannya mau ke mana, kayak hati gue.
-Querencia-
"Dok! Please tolongin Mama saya ... saya mohon."
Suara rintihan itu membuat si dokter hanya bisa mengangguk, berusaha menenangkan.
"Kami akan berusaha semaksimal mungkin," jawab dokter itu.
Tangis Alby pecah kali ini. Kondisi Maya-mamanya sudah kritis. Hanya kesempatan kecil jika Maya bisa diselamatkan. Hanya wanita paruh baya itu yang bisa Alby harapkan sekarang.
"Kamu keluar dulu dari ruangan, ya," ucap pak dokter yang dijawab anggukan oleh Alby.
Alby membuka kenop pintu dengan lemas. Sebelumnya ia menyempatkan menatap sang Mama yang tengah terbalut beberapa selang di area tubuh. Tangis Alby semakin pecah. Gadis itu keluar secara terpaksa. Terisak dan tak tahu harus apa.
Seseorang di sekitar yang melihat gadis itu menangis histeris nampak iba. Terlebih pada paruh baya dan seorang pria yang menghampirinya.
"Nak ... Kamu kenapa?"
Suara itu mengalihkan perhatian Alby. Alby mendongak, mendapati paruh baya yang ditemukannya tadi pagi bersama Arga yang menatapnya sendu.
Alby refleks memeluk wanita paruh baya itu-Bella. Ia saat ini butuh pelukan. Bella pun membalas pelukan Alby.
"Tenang ya ... semua akan baik-baik saja," ucap Bella berusaha menenangkan, seraya mengelus punggung Alby.
Arga tertegun melihat dua kaum hawa di depannya. Ia tak tahu pasti apa yang terjadi pada Alby, tidak, lebih tepatnya pada mamanya Alby.
Setelah tangis mulai redah, Alby melepas pelukannya. Bella dengan tulus menghapus jejak air mata yang menjalar di pipi gadis itu. Hati Alby hangat secara tiba-tiba. Perlakuan dari Bella selalu membuatnya luluh. Efeknya begitu besar.
"Mama lo kenapa, Al?" tanya Arga memecahkan keheningan.
"Mama gue kritis."
Arga terkejut, begitu juga Bella.
"Terus gimana sekarang?" Arga bertanya lagi.
Alby dengan bibir gemetarnya pun menjawab, "Nggak tahu. Yang pasti gue hanya bisa berdoa untuk saat ini."
Tangan Bella terjulur kemudian. Membelai lembut rambut coklat Alby.
"Sabar ya, sayang. Doakan mamamu semoga baik-baik aja."
Alby hanya mengangguk.
Lalu mereka bertiga duduk di kursi yang tersedia. Menunggu hasil dari dokter. Alby pasrah. Apapun yang terjadi pada Mamahnya, itu sudah kehendak Allah.
Namun, gadis dengan pakaian merah merona yang baru saja datang, mengalihkan perhatian mereka. Dia Keisya Mahardika. Adik kelas bajingan yang selalu mengusik hidup Alby. Gadis itu tidak sendirian, melainkan bersama Devon yang ditarik paksa.
Alby yang melihat kedatangan Keisya pun kontan berdiri dengan emosi yang mulai menanjak.
"Sebelum gue nyabik-nyabik wajah sok sucinya lo, sebaiknya lo pergi dari sini sekarang." Ancaman Alby yang terdengar mencekam itu tak membuat niat Keisya menciut.
Cengkraman tangannya telah terlepas, Devon pun bisa bernafas lega. Pria itu kesal dengan Keisya yang tanpa malu menarik paksa.
"Gue ke sini cuman mau bilang sama kalian semua, terutama buat kak Alby dan kak Devon," ujar Keisya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Querencia [END]
Teen FictionPART MASIH LENGKAP, BELUM DIREVISI. [Follow sebelum membaca, don't copy my story]. Highest rank🥇 #1 in highschoolseries #1 in spirit #1 in together #2 in best couple Dia khayal dalam nyata. Dia imajinasi dalam realita. Rasa itu hadir tanpa disadari...
![Querencia [END]](https://img.wattpad.com/cover/170616919-64-k427741.jpg)