Jadi orang itu jangan egois. Datang di saat sepi, dan pergi setelah apa yang diinginkan sudah terpenuhi. Ini perasaan. Jangan meninggalkan dia yang sudah bertahan. Yang meninggalkan malah dipertahankan. Dan sekarang minta kesempatan kedua? Buat apa? Mau melakukan hal yang sama?
-Querencia-
Suara dentingan antara sendok dan piring mulai beriringan. Ditambah canda tawa yang meleburkan suasana. Mereka terlihat sangat bahagia. Rasa merindu pun telah terbayar dengan pertemuan yang bukan hanya sekedar perjanjian.
Alby Alexandra. Gadis manis itu sedaritadi mengulum senyumnya, bahkan terbahak kala sang mama dan Devon membahas soal dirinya. Namun di tengah gurauan yang mengasyikkan itu, sosok Arga mengalihkan perhatian mereka. Terlebih pada Bella.
"Arga, sini ikut sarapan," ajak Bella dengan lembut.
Arga yang tengah berjalan menuju kamarnya dengan handuk kecil bertengger di pundaknya kontan berhenti dan menoleh ke sumber suara tadi.
"Eh, nggak usah deh, Tan. Arga mau masuk kamar, nanti bibi juga nyiapin makanan buat Arga." Arga heran ke dirinya sendiri, kenapa ia tiba-tiba gugup tidak karuan seperti ini? Sial!
"Halah, nggak usah basa-basi deh, lo, Ar. Tinggal duduk aja apa susahnya sih," sergah Devon.
Arga meringis kecil. Ia bingung akan memilih jalan yang mana, ke kamarnya atau ke tiga orang di sana?
Selama beberapa menit menimang, Arga hanya mematung di tempat dengan suasana kikuk. Devon yang sudah geram akhirnya berdiri dari tempatnya dan menarik lengan Arga secara paksa. Arga refleks menjatuh bokongnya di kursi yang berdampingan dengan Alby. Alby hanya menatap malas pria itu.
"Ngapain coba ngajak-ngajak dia sarapan? Nggak penting tau, Ma, Bang," seru Alby yang tiba-tiba selera makannya hilang.
Bella menggeleng pelan, "Heii, jangan gitu, sayang. Arga kan pemilik rumah ini, bukan kamu. Jadi dia bebas dong ngelakuin apa aja."
Alby melirik Arga dengan tatapan sinis, sedangkan Arga malah menjulurkan lidahnya, meledeknya karena opini Bella tidak sesuai dengan ekspektasi.
Awas aja lu, dugong! batin Alby kesal.
"Jangan kebanyakan ngobrol, lanjutin makan yuk," seru Bella.
Arga masih kebingungan di dalam suasana ini. Mengapa dirinya mendadak jantungan begini, sih?
"Arga, kamu kok nggak makan?" tanya Bella sambil mengunyah makanannya.
Arga menggeleng pelan, "Arga nggak laper, Tan."
Devon yang mendengar ucapan buaya Arga kontan berdecak. "Heh, jadi cowo itu nggak perlu jaim, apa adanya. Kalo laper ya makan, kalo suka seseorang ya bilang, jangan diem-diem bae!"
Arga mengumpat dalam hati. Ingin rasanya ia menampol kepala Devon secara keras-keras manja.
"Alby, ambilin tuh anak," suruh Devon ke Alby.
Alby memasang wajah congo, "Hah? Apanya yang diambilin, Bang?"
Devon berdecak lagi, "Ambilin Arga nasi dan lauknya. Dia emang manja, apa-apa minta diladenin. Kalo nggak diladenin nanti diem doang nonton kita makan."
"Nggak! Ogah banget gue ngambilin dia nasi sama antek-anteknya. Emangnya gue babu dia?" Alby melanjutkan makannya kembali. Arga hanya memasang tampang kalem-kalem minta di-anu, walau sebenarnya pria itu ingin menonjok keras pipi gadis di sampingnya.
"Alby, jangan kayak gitu. Hormati tuan rumah," sela Bella sembari melahap makanannya.
Alby menghela napas beratnya. Jika bukan Bella yang menyuruhnya, ia tak sudi mengambilkan Arga nasi dan lauk-pauknya. Alhasil, Alby dengan muka yang tertekuk mengambilkan nasi beserta lauk di atas piring Arga dengan perasaan yang kesal.
KAMU SEDANG MEMBACA
Querencia [END]
Teen FictionPART MASIH LENGKAP, BELUM DIREVISI. [Follow sebelum membaca, don't copy my story]. Highest rank🥇 #1 in highschoolseries #1 in spirit #1 in together #2 in best couple Dia khayal dalam nyata. Dia imajinasi dalam realita. Rasa itu hadir tanpa disadari...
![Querencia [END]](https://img.wattpad.com/cover/170616919-64-k427741.jpg)