Terlalu sibuk berbicara tentang kekurangan mereka. Sampai lupa kita pun kurang porsinya.
-Querencia-
"Di mana sih, lo?"
Sejak pagi tadi, Alby masih sibuk mencari dasi sekolah yang tiba-tiba menghilang entah ke mana. Ia menggerutu kesal, sesekali mengumpat tak terima atas kesialannya yang datang dari kemarin sampai sekarang.
"Kenapa gue selalu sial dari kemarin!"
"Ke mana sih tuh dasi?! Dicari nggak ada, giliran dianggurin, nongol!"
Alby menggeram kesal. Pasalnya, ia sudah mencari pemicu pusing kepalanya, dari meja belajar, kolong meja, kolong ranjang, sampai sudut pada atap kamarnya pun ia teliti, barangkali diambil cicak.
"Kenapa, Al?"
Suara lembut seseorang muncul dari balik pintu kamarnya. Alby menegakkan tubuhnya yang sedaritadi masih dalam posisi berjongkok—mencari dasi di bawah karpet kamarnya.
"Oke. Positif hari ini, pagi ini, detik ini, lo akan dapat kesialan berlipat ganda Alby. Sabarin diri lo. Jangan emosi buat manggang idup-idup manusia di hadapan lo," batin Alby yang berusaha menenangkan dirinya sendiri.
Devon terkekeh geli kala melihat penampilan gadis di hadapannya—sangat absurd. Tidak pantas jika Alby dilahirkan menjadi seorang gadis. Seharusnya seorang gadis memiliki sifat lemah lembut, menjaga penampilan, dan agak menye-menye atau terkesan manja, tapi tidak dengan Alby Alexandra. Dia berbanding terbalik dengan sisi gadis pada umumnya. Pantas jika Alby sering dijuluki "Preman" jutek di sekolah.
Raut wajah Alby mulai memerah, menandakan ia tengah emosi. Rambut acak-acakkan, seragam yang tanpa sadar dikeluarkan, ikat pinggang yang terlepas nampak tidak dipedulikan.
Alby berdiri jauh dari hadapan Devon, lalu menatap pria itu seraya menampilkan wajah datar. "Ngapain lo masuk ke kamar gue? Sembarangan aja masuk kamar orang, kamar cewek lagi!" protes Alby.
Devon melangkah lebih dekat menuju Sang gadis.
"Nggak usah deket-deket!"
Alby bergidik ngeri. Jarak antara dirinya dengan Devon terlalu dekat. Namun, sentuhan dari tangan lembut milik Devon yang merapihkan rambut Alby, membuat gadis itu bungkam sejenak. Ia dapat melihat rahang tegas pria di hadapannya. Melihat lekuk wajah yang indah. Tapi, Alby mengerjapkan mata beberapa kali. Karena terlalu lama dan risih, Alby mendorong tubuh Devon tanpa rasa ampun, lalu memundurkan langkah lagi.
Devon yang sedikit terpental malah terkekeh dengan perlakuan Sang gadis.
"Santai saja, Alby. Gue nggak akan apa-apain lo, kok. Lo nyari apa?" balas Devon dengan lembut.
"Nggak usah sok perhatian jadi orang," timpal Alby yang kemudian melangkahkan kakinya—keluar dari kamarnya. Tak peduli dengan benda menyebalkan itu, tak peduli pula ia meninggalkan Devon di kamarnya.
Alby yang masih dikelabuhi emosi langsung menyerobot sebuah roti dan segelas susu hangat yang sudah tersedia di atas meja. Melahap dengan cepat agar tidak terlambat.
"Alby. Kamu mau sekolah?" tanya Maya yang sekarang tengah berhadapan dengan Alby di seberang meja makan itu.
"Mau hunting, Ma."
Maya membulatkan mata, akan tetapi terkekeh sejenak. Ia tahu betul meski anaknya terkenal cuek, namun ada sisi humor sedikit di dalamnya.
Paruh baya itu menggelengkan kepala. "Jangan kayak gitu Alby. Kamu sudah besar. Pikirin masa depanmu buat banggain Mama. Kamu akan menentukan jalan hidup sendiri nantinya."
KAMU SEDANG MEMBACA
Querencia [END]
Roman pour AdolescentsPART MASIH LENGKAP, BELUM DIREVISI. [Follow sebelum membaca, don't copy my story]. Highest rank🥇 #1 in highschoolseries #1 in spirit #1 in together #2 in best couple Dia khayal dalam nyata. Dia imajinasi dalam realita. Rasa itu hadir tanpa disadari...
![Querencia [END]](https://img.wattpad.com/cover/170616919-64-k427741.jpg)