Terima kasih telah buat gue tahu, kalau mencintai gue itu nggak sulit.
-Querencia-
"Gue adalah orang yang ditugaskan buat bahagiain lo."
Keadaan hening semakin mendominasi dua orang itu. Tapi beberapa detik kemudian, pria tadi tersenyum lembut.
"Gue pengeran lo," lanjut Si pria sambil melepas topengnya.
Alby membulatkan matanya kala melihat orang di balik topeng. Matanya tergambarkan emosi yang tersulut.
Plak!
Pria tampan itu merasakan perih pada bagian pipinya, namun senyumnya belum terlepas dari bibirnya. Alby baru saja melempar tamparan panas ke pria di hadapannya dengan air mata yang mengalir deras, juga napas yang memburu.
"GUE BENCI SAMA LO, ARGA!"
"SETELAH APA YANG LO LAKUIN, DAN SEKARANG LO BERANI-BERANINYA SOK ROMANTIS KAYAK GINI? OTAK LO DI MANA? LO UDAH BUAT BANG DEVON CELAKA!" teriak Alby.
Arga justru tersenyum lembut ke arah Alby. Tangannya tiba-tiba bertepuk kecil. Tubuhnya menyingkir ke sisi kiri, menunjukkan seseorang lain di balik punggungnya. Alby bungkam. Gadis itu mematung di tempatnya. Ia kontan mengucek matanya sendiri. Ternyata dia tidak salah lihat.
Pria di sebrang sana dengan kemeja berwarna putih merenggangkan kedua tangannya. Alby yang tadinya terdiam kini dengan cepat berlari dan memeluk kakaknya dengan erat. Pria itu pun membalas pelukan Alby. Alby menangis di dada Sang kakak, terisak hebat.
"Bang ... lo belum mati, kan? Lo masih hidup, kan?" tanya Alby yang terisak sambil meraba tubuh Devon, memastikan tubuh pria itu tidak ada bercak darahnya.
Devon tersenyum lembut, "Iya, gue masih hidup."
Alby menyeka air matanya.
"Tapi lo baru aja ditusuk sama dua penjahat itu. Kenapa lo-"
"Ssstt. Tanyakan hal itu ke Arga," potong Devon sambil menoleh ke arah Arga yang berada di hadapannya. Namun Alby menggeleng dengan cepat.
"Nggak. Dia udah jahat sama kita, Bang!" elak Alby sambil menatap Arga dengan tatapan tajam.
Devon mengelus rambut adiknya dengan lembut, "Hei, percaya sama gue. Dia nggak seperti yang lo pikirkan."
Alby menghembuskan napasnya pelan, dan mengangguk sebagai balasan dari ucapan Devon. Ia melangkahkan kakinya menuju posisi Arga, Arga yang dihampiri masih saja tersenyum lembut.
"Apa yang dikatakan Bang Devon, benar?"
Arga mengangguk.
Alby sontak memegang kepalanya yang terasa pening, "Ini sebenarnya ada apa sih, astaga!"
Arga terkekeh pelan, "Lo kena jebakannya gue," timpal Arga dengan seringaian khasnya.
"Maksudnya?" Alby mengernyitkan keningnya. Namun sesaat ia dibuat terkejut karena Arga melangkahkan kaki lebih dekat ke wajahnya. Wajah Arga tepat di samping wajah Alby. Pria itu sedikit menundukkan kepalanya, lalu mendekati indra pendengaran gadis itu.
"Gue berhasil buat lo nangis dan bahagia di saat yang bersamaan," bisiknya.
Alby membulatkan matanya, "JADI, INI SEMUA ULAH LO? LO NGERJAIN GUE? INI YANG LO BILANG BAHAGIA?"
Arga mengangguk lagi dengan kekehan pelan. Alby dengan cepat menjambak perut Arga secara brutal. Sang pemilik rambut hanya mengaduh kesakitan atas apa yang terjadi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Querencia [END]
Teen FictionPART MASIH LENGKAP, BELUM DIREVISI. [Follow sebelum membaca, don't copy my story]. Highest rank🥇 #1 in highschoolseries #1 in spirit #1 in together #2 in best couple Dia khayal dalam nyata. Dia imajinasi dalam realita. Rasa itu hadir tanpa disadari...
![Querencia [END]](https://img.wattpad.com/cover/170616919-64-k427741.jpg)