Satu cara dimana "keterpurukan" bisa di musnahkan. Ciptakan "kebahagiaan".
-Querencia-
Pria tampan itu tengah menunggu seseorang spesialnya dengan raut wajah yang nampak kebingungan. Di mana dirinya merasa dibodohi oleh semesta.
Devon mengusap wajahnya beberapa kali. Napasnya memburu, padahal ia dari tadi hanya menunggu di dalam mobil. Bukan berolahraga.
Glek!
Pintu mobilnya terbuka, dan tibalah Sang gadis absurd dengan wajah yang ditekuk.
Alby mendaratkan bokongnya ke kursi di samping Devon.
Mereka diam. Tak ada satupun dari mereka yang membuka suara. Devon menghela napas beberapa kali. Tatapannya lurus ke depan. Ia tidak peduli dengan mobilnya yang sedari tadi tidak ia kemudi. Tetap sama. Bungkam.
Begitupun Alby, ia lebih memilih diam. Tak ingin berurusan dengan pria di sampingnya. Buang-buang waktu saja.
Sudah beberapa menit terdiam, sekolah pun sudah sepi. Matahari beranjak tenggelam, menyajikan sinar jingga dengan penuh kehangatan. Tetapi, dua remaja itu masih saja di dalam mobil. Sama-sama bungkam.
"Lo mau nginap di sini?"
Dengan berat hati, Alby membuka suaranya. Terpaksa. Karena ia sudah cukup bosan dengan suasana, risih pula berduaan dengan pria yang hanya membuatnya muak.
Devon belum bergerak sedikitpun. Tatapannya kosong. Ponsel pria itu sedari tadi bergetar, entah ada notifikasi chat ataupun telepon, sepertinya ia tak peduli.
"Lo budeg, Von?"
Amarah Alby muncul seketika. Sorot matanya jelas tengah menahan amarah. Tak ada respon dari Devon Vincent. Hal itu membuat Alby makin kesal tidak karuan.
Glek!
Pintu mobil terbuka. Alby hampir saja melangkahkan kakinya keluar dari kendaraan roda empat itu. Tapi, lengannya ditahan oleh pria di sampingnya. Devon masih menatap jalanan depan dengan tatapan kosong, tapi tangannya memegang lengan Alby. Ia tak kuasa menatap makhluk cantik di sampingnya. Devon tak bisa menerima kenyataan terberat ini.
Alby berusaha mengelak, hingga tangan Devon pun semakin erat di lengannya.
"Mau lo apa, sih?"
Devon menghela napasnya tanpa menjawab pertanyaan Alby.
"Gue mau pulang, dan sekarang lo malah diem mulu dari tadi. Lebih baik gue naik angkot daripada harus berduaan sama lo!" seru Alby.
Devon tak menggubris. Jalanan mulai terang disinari lampu yang perlahan menyala satu-persatu.
"Al," sapa Devon yang memberanikan diri untuk membuka suara.
Alby hanya menautkan alisnya. Sedangkan kondisi Devon sangat terlihat miris. Raut wajahnya pucat, bibirnya kering, kerutan di bawah mata pun terlihat samar.
Dan anehnya, seorang Devon menangis?
"Jangan tinggalin gue."
***
Dengan alunan musik jazz, pria itu merasa tenang. Musik yang berasal dari radio kamarnya begitu lembut. Ia memejamkan matanya, lalu membukanya kembali.
Harinya terasa lelah. Sekolah baru dengan suasana yang baru. Malasnya, ia harus bertemu dengan gadis menyebalkan itu. Alby Alexandra.
Arga tersenyum miring ketika mengingat kejadian mengenaskan saat pertama kali menemui gadis itu. Ia tak mengira ada seorang gadis yang dengan berani beradu fisik dengannya. Menonjok, menendang, bahkan ingin mematahkan kepalanya. Alby seperti gadis pshyco saja.
KAMU SEDANG MEMBACA
Querencia [END]
Fiksi RemajaPART MASIH LENGKAP, BELUM DIREVISI. [Follow sebelum membaca, don't copy my story]. Highest rank🥇 #1 in highschoolseries #1 in spirit #1 in together #2 in best couple Dia khayal dalam nyata. Dia imajinasi dalam realita. Rasa itu hadir tanpa disadari...
![Querencia [END]](https://img.wattpad.com/cover/170616919-64-k427741.jpg)