Karena gue lebih suka cewek yang apa adanya, dibanding cewek yang ada apanya.
-Querencia-
"Hei, wake up!"
Gadis itu menyipitkan matanya kala sinar matahari menusuk pupilnya. Suara bariton yang menyapa telinganya membuatnya terbangun. Objek pertama kali yang ia lihat adalah sosok pria tampan yang sudah berdiri di hadapannya dengan tangan yang terjulur ke arahnya.
Alby mengucek matanya beberapa kali. Berusaha menatap pria di hadapannya dengan jelas. Aroma tubuh dari parfum pria itu sangat menyengat di indra penciumannya. Arga dengan sweater berwarna hitam dan celana panjang berwarna putih menatap Alby dengan senyum yang mengembang.
Alby mengerjapkan matanya, "Ar, lo mau ke mana? Rapi banget."
"Mau ikut nggak? Ada kabar gembira lho!" ajak Arga yang masih mengulurkan tangan.
Alby mengernyitkan keningnya, "Apa? Dimas dapet cewek baru? Ata udah jadian sama Gio? Nyak kantin punya suami kedua?"
"Salah semua, pe'a!" Arga menyentil kening gadis itu. Alby hanya mengerucutkan bibirnya.
"Nggak mau ikut? Ya udah!"
"IKUT!"
Arga tersenyum puas seraya menyambut tangan Alby yang sudah bergandengan dengannya. Sebelum keluar dari kamarnya, Alby memberhentikan langkahnya di depan cermin besar di sana, menatap pantulan dirinya sendiri dengan Arga.
"Ar, gue absurd banget penampilannya. Gue ganti baju dulu, ya?"
Arga berdecak, "Emang lo absurd dari dulu, baru nyadar, njir!"
Alby menambah rambut Arga dengan brutal. Arga hanya mengaduh kesakitan dan memohon ampun agar jambakan itu dihentikan. Karena serasa sudah puas, Alby melepas tangannya dari rambut pria di sampingnya.
"Mau dijambak, digaruk, dicakar, gue tetep aja keliatan ganteng, iya nggak, Al?" tanya Arga dengan senyum tengilnya.
"Sok ganteng, najis!"
Alby menghela napasnya. Bukannya merapihkan rambut Arga yang berantakan karena ulahnya, ia justru merapihkan rambutnya sendiri yang acak-acakan dengan sela jarinya. Tangan kirinya masih digenggam erat oleh Arga yang menatap pantulan rupa mereka di cermin. Arga pun ikut merapihkan rambutnya sendiri.
"Nggak usah sok cantik. Kalo nyatanya jelek ya udah, pasrah aja!" celetuk Arga.
Alby melirik sinis seraya melepas genggaman tangannya dengan tangan pria itu, "Gue nggak jadi ikut lo!"
"Dih, ngambek!"
Alby kembali mendudukan tubuh kurusnya di atas ranjang dengan wajah yang tertekuk. Arga terkekeh melihat ekspresi gadis itu.
"Dasar cewek. Baperan banget sih, heran aing!" kekeh Arga.
Alby menatap sinis, "Bodoamat. Sana pergi, ngapain masih di sini!?" usirnya.
Arga memajukan tubuhnya ke hadapan Alby.
"Jadi lo nggak mau jenguk abang lo yang udah sadar?"
Alby terkejut bukan main. Ia kontan berdiri menyejajarkan posisinya dengan Arga.
"Lo nggak bohong, 'kan?!"
Arga mengangguk tegas.
"Cepetan! Gue ikut!" Alby dengan cepat mengambil tas kecil yang sering dibawanya, dan memasukkan ponsel ke dalam tas itu. Arga yang melihatnya hanya tersenyum.
KAMU SEDANG MEMBACA
Querencia [END]
Teen FictionPART MASIH LENGKAP, BELUM DIREVISI. [Follow sebelum membaca, don't copy my story]. Highest rank🥇 #1 in highschoolseries #1 in spirit #1 in together #2 in best couple Dia khayal dalam nyata. Dia imajinasi dalam realita. Rasa itu hadir tanpa disadari...
![Querencia [END]](https://img.wattpad.com/cover/170616919-64-k427741.jpg)