3) Dihantui

4.3K 252 52
                                        

Dunia mengandung banyak unsur teka-teki. Hanya perlu menjalaninya dan mencari jalan keluarnya.

-Querencia-

Gadis dengan rambut cokelatnya yang tergerai bebas sejujurnya bingung akan jalan hidupnya. Ia belum menemukan hari terindah di kehidupannya. Setiap hari hanya kesialan yang dia terima. Hobi masuk ke Bk, membolos, berkelahi, bahkan terkadang merokok.

Alby menumpukkan kedua kakinya di atas meja yang terjajar rapi di kantin sekolah. Dua batang rokok telah lenyap dihisap olehnya. Ia hanya merokok di saat kondisi tengah kacau. Hanya itu. Selebihnya tidak.

Sang penjaga kantin tidak heran dengan perilaku Alby, toh sudah biasa. Membolos jam pelajaran? Tak usah ditanyakan lagi. Itu keahlian Alby Alexandra.

Alby menghembuskan asap rokoknya ke udara hingga menyebar ke seluruh ruangan kantin yang tidak seorang siswa pun ada di sana, kecuali penjaga kantin.

"Bosen hidup."

Sang penjaga kantin hanya menggelengkan kepala saat tidak sengaja mendengar gumaman dari anak murid itu.

"Jangan bilang kayak gitu. Masa depan kamu masih panjang, dan kamu belum nikah."

Begitulah ucapan Nyak— Si penjaga kantin. Alby  membuang puntung rokoknya yang sudah habis ke dalam piringan kecil yang disediakan. Ia hendak mengambil kembali rokok dari bungkus, tapi tangan Nyak menghalanginya.

"Kalau mau pikiran tenang berdoa sama Tuhan. Pelampiaskan amarahmu kepada-Nya. Bukan ke rokok. Itu malah akan membunuhmu."

Alby terkekeh kecil. "Emang gue pengen mati, Nyak. Bosen hidup gini-gini aja. Nggak ada yang nyenengin."

"Nih, Nyak. Makasih."

Gadis itu meletakkan lembaran uang di meja. Setelahnya, ia melesat pergi. Nyak yang sudah terbiasa melihat kelakuan gadis itu hanya menghela napas pelam.

"Semoga dia cepat sadar kalau banyak hak yang belum dia temui."


***

Indra perabanya merapikan beberapa buku di atas meja untuk dimasukkan ke dalam ransel. Usai itu, ia melesat pergi. Keluar dari ruangan kelas yang telah sepi.

"Kak!"

Teriakan melengking dari balik punggung membuat pria itu membalikkan tubuhnya, mendapati sesosok gadis yang berlari menuju kepadanya. Sang empu hanya mendengus kesal. Gadis cerewet yang notabene-nya sebagai siswi kelas sepuluh selalu menghampirinya setiap hari. Namun, pria itu tak mempedulikan. Ia lebih memilih untuk membalikkan tubuh dan berniat pergi meninggalkan.


"Kak Devon!"

Devon berdecak kuat saat tangan siswi tersebut berusaha menahannya. Ia dengan cepat menghempaskan. Lalu, terpaksa membalikkan tubuh dengan wajah yang kurang mengenakkan.


"Gue nggak mau nerima kotak itu, ngerti?"

Hanya itu yang Devon ucapkan setiap hari, karena ia tahu jika gadis ini menemuinya pasti ada sesuatu yang akan diberikan. Devon tidak mengetahui nama gadis itu, bahkan ia tidak mengenalnya. Tapi, adik kelasnya selalu memberikan sebuah kado dengan isi yang berbeda. Dan dengan seenaknya berkata bahwa kado itu titipan dari seseorang penting dari hidup Devon. Apa Devon mempunyai orang seistimewa itu?

Querencia [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang