17) Bukan kesengajaan

1.6K 95 3
                                        

Kalimat sakral yang sering cewek ucapkan, "nggak apa-apa".

-Querencia-

Pagi ini sangat terik. Membuat gadis SMA itu menyipitkan matanya. Ia menyembunyikan wajahnya di balik punggung pria yang tengah melajukan motor. Berusaha berlindung dari sinar matahari yang menusuk pupilnya. Ditambah sarayu pagi yang membelai pipi dua remaja tersebut membawa ketenangan tersendiri.

Tak butuh waktu lama, mereka sampai ke gedung bertingkat dua yang dituju. Sekolah. Alby turun dari motor besar Arga. Setelahnya gadis itu berdecak pelan. Merapihkan bagian roknya yang berantakan.

Arga melepas helm full facenya. Lalu menghadap ke spion motor, dan merapihkan rambutnya dengan gaya sok cool, hal itu membuat Alby bergidik ngeri. Arga hanya menghiraukan wajah kecut dari Alby. Pria itu melangkah pergi. Meninggalkan gadis yang menjadikan dirinya antar jemput itu.

Alby berdecak kesal. Ia segera menyusul Arga. Menyamakan langkahnya dengan langkah lebar pria di sampingnya.

"Eh, lo mau tanding hari ini?" tanya Alby seraya berjalan di samping Arga. Arga hanya menggumam kecil sebagai jawaban.

"Terus nanti gue pulangnya gimana? Lo kan otomatis pulang sore?" tanya Alby lagi. Arga mendengkus pelan. Melangkahkan kakinya lebih cepat, guna menghindari 'preman cewek' itu.

Alby tak mau kalah. Ia harus mendapat kepastian. Takutnya Alby malah jadi gembel nanti sore. Huh!

"Bisa jawab nggak? Gue bocorin ban motor lo kalo nggak jawab!"

Arga menghentikan langkahnya. Menatap ke arah Alby dengan tatapan tajam. Emosinya muncul pagi ini. Hanya gara-gara hal sepele. Arga benci itu.

Tatapan Arga semakin dalam. Mereka berdua berhenti tepat di tengah lapangan basket. Mereka banyak disoroti oleh beberapa siswa. Namun, Arga dan Alby tidak menyadari hal itu. Dua remaja tersebut tengah dikelabui emosi pada dirinya masing-masing.

Arga nampak merendahkan tubuhnya. Sontak, Arga mengangkat kedua kaki kecil Alby. Dan membopongnya pergi dari lapangan. Alby meronta ingin dilepaskan. Ia tak terima dipermalukan seperti ini. Para siswa yang menyaksikan hal tadi malah bertepuk tangan, membuat dirinya semakin brutal di pelukan Arga.

Entah apa yang dipikirkan pria itu, Arga membawanya ke lantai atas. Tepatnya di samping rooftop. Di depan ruang lab komputer. Arga belum melepaskan Alby. Ia masih memegang erat kaki gadis itu. Alby terus memukuli punggung Arga, bahkan menjambak rambut pria itu. Namun, Arga masih saja menjalankan misinya.

Dengan tiba-tiba, Arga memajukan tubuh Alby untuk menakuti gadis itu. Alby berteriak histeris. Pasalnya ia akan dijatuhkan dari lantai dua. Ini tidak bisa dibiarkan.

"ARGA! LEPASIN GOB-"

"ARGAAA!"

Alby semakin terlonjak kala tubuhnya semakin mengambang di atas udara dengan kaki yang masih dipelukan Arga.

Arga yang melihat ekspresi gadis di hadapannya itu terbahak seketika. Ia semakin gemas dengan Alby. Pasalnya gadis itu menyebalkan.

Beberapa siswa di bawah lantai pun melihat kejadian itu. Mereka bersorak ria. Dan semakin riuh. Arga yang merasa suasana tidak kondusif lagi, lalu ia menurunkan tubuh Alby yang nampak bergemetar.

Alby yang merasa nyawanya selamat itu menatap wajah menjengkelkan dari Arga. Kepalan panas siap menghantam wajah pria itu. Alby mengurungkan niatnya. Bu Rini-Guru BK SMA Bina Bangsa itu hadir di hadapan Arga dan Alby. Bu Rini datang dengan wajah merah, yang menandakan bahwa guru itu tengah marah besar.

Querencia [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang