Hak? Emang lo siapanya dia?
-Querencia-
Hari dengan cepat berakhir. Langit memanggul seberkas cahaya jingga mempesona, lalu memudar buyar. Senja. Fenomena alam itu muncul kembali sore ini. Siswa dan siswi SMA Bina Bangsa nampak berhamburan. Koridor pun mulai sepi.
"Al!"
Suara itu menghentikan langkah Alby yang akan keluar dari gerbang sekolah. Alby mengulum senyumnya. Devon datang namun tidak membawa motor, pria itu berjalan menemui Alby.
"Motor lo mana, Von?" tanya Alby dengan alis yang berkerut.
"Maaf, Al. Gue nggak bisa antar lo pulang. Gue mau kumpul basket sore ini, lo nggak pa-pa 'kan pulang sendiri? Atau gue cariin temen gue aja biar anterin lo?"
Alby menghela napas beratnya. Lagi dan lagi ia harus menerima semua ini. "Nggak usah kok. Gue jalan kaki aja."
"Tapi ...."
"Udah, nggak pa-pa, Von. Gue bisa jaga diri," ujar Alby dengan tangan yang menggenggam tangan Devon, berusaha menenangkan.
Devon mengangguk kecil. "Oke, hati-hati, ya," ucap Devon seraya tangannya mengacak pelan rambut Alby.
Alby tersenyum. Mereka pun berpisah di sana. Alby melangkahkan kakinya malas. Ia hanya takut akan kejadian kemarin, dan sedikit membuatnya trauma. Padahal berkelahi dengan seseorang sudah biasa Alby dapat, dan ia menyukainya. Namun untuk kejadian kemarin sepertinya sangat berat, itulah mengapa nyali Alby menyiut jika seseorang membawa senjata tajam.
Ketika sedang asyiknya menikmati semilir angin yang menerpa pipinya, mobil hitam melewatinya. Alby menghentikan langkahnya kala mendengar suara di balik kaca mobil tadi.
"Al, yuk naik."
Alby tersenyum tipis. "Nggak usah, Kak. Gue biasa jalan kok. Sekalian olahraga sore, udah lama nggak olahraga soalnya."
Ardian menghentikan mobilnya. Pria itu keluar dari kendaraan beroda empat itu—mengejar posisi Alby. Alby pun ikut berhenti. Menatap Ardian dengan tampang sok kalem.
"Nggak pa-pa kalau gue jadiin lo supir satu hari, Kak?" tanya Alby yang merasa tidak enak hati.
Ardian mengangguk yakin. "Dengan senang hati."
Alby mengulum senyum lalu mengangguk. Ardian sontak membuka pintu mobil. Pria itu mempersilahkan Alby layaknya seorang putri kerajaan. Sangat manis. Alby yang diperlakukan seperti itu pun tersipu malu. Ia masuk ke dalam mobil Ardian dengan senyum yang tak bisa ditahan.
Ardian pun mengitari mobilnya. Duduk di samping Alby, dan bersiap untuk mengemudikan mobilnya. Baru saja Ardian dan Alby akan melesat pergi, namun seseorang lain dari luar mengetuk kaca mobil dengan tidak sopan.
Ardian dan Alby saling melempar tatapan. Akhirnya, Ardian membuka kaca mobilnya. Dan sosok adiknya lah yang menjadi pelakunya.
"Lo mau apa sih, Ar?" tanya Ardian seraya berdecak pelan.
Arga menatap Alby dan Ardian secara bergantian dengan tatapan tak suka.
"Woi, Alby. Lo lupa sama janji kita dulu yang katanya gue harus antar jemput lo setiap hari?" tanya Arga kepada Alby. Ia telah menghiraukan ucapan kakaknya sendiri.
Alby berdecak pelan di dalam mobil. "Kan gue udah bilang sebelumnya sama lo, kalau perjanjian itu resmi dibatalkan, paham?"
Arga memutar otaknya. Lebih tepatnya mencari alasan lain. Tatapan pria tampan itu beralih ke arah Ardian—Kakaknya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Querencia [END]
Teen FictionPART MASIH LENGKAP, BELUM DIREVISI. [Follow sebelum membaca, don't copy my story]. Highest rank🥇 #1 in highschoolseries #1 in spirit #1 in together #2 in best couple Dia khayal dalam nyata. Dia imajinasi dalam realita. Rasa itu hadir tanpa disadari...
![Querencia [END]](https://img.wattpad.com/cover/170616919-64-k427741.jpg)