36. Solitude

1.1K 71 14
                                        

Jangan becanda soal perasaan, karena pada hakikatnya perasan mempunyai sahabat, yaitu hati. Mereka bahagia secara bersamaan dan terpuruk secara bersama juga.

-Querencia-

Deru mesin mobil berhenti tepat di depan sebuah cafe Pizza. Ardian menoleh ke arah belakang.

"Ar, udah sampai," ucap Ardian kepada Arga.

Arga mengangguk kecil tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Pria tampan itu keluar dari mobil dan memasuki cafe itu. Alby yang sudah membuka pintu mobil ditahan oleh Ardian.

"Kenap, Kak? Bukankah kita udah sampai?" tanya Alby sambil mengernyitkan keningnya.

Ardian menggeleng pelan. "Tempat tujuan kita bukan ke sini."

"Lalu ke mana, Kak?" tanya Alby.

"Ada."

Setelah menjawab pertanyaan Alby, Ardian menancap gas menjauhi tempat tadi. Tak membutuhkan waktu lama, mereka telah sampai di kedai es krim milik Friska—Mama Ardian.

Kemudian Alby dan Ardian memasuki tempat itu. Ardian berjalan mendahului Alby. Alby pun hanya membuntuti pria di depannya.

Mereka duduk di kursi terdepan, biasanya jika Arga yang mengajak Alby ke tempat ini akan duduk di kursi paling pojok, tapi berbeda dengan Ardian.

Alby duduk dengan senyuman singkat karena Ardian telah mempersilahkan kursi untuknya. Tanpa memanggil, sosok pelayan cantik pun datang menghampiri. Pelayan itu tahu betul dari seorang Ardian yang menjabat sebagai anak pemilik kedai tersebut. Ardian memesan es krim dengan varian vanila, sedangkan Alby seperti biasanya, coklat.

"Kak, kenapa kita nggak jalan bareng sama Arga? Tadi Arga ngapain ke cafe itu?" tanya Alby setelah beberapa saat hening.

Ardian terkekeh pelan. "Dia mau makan-makan sama temennya. Biasa, sama Rey, Dimas, dan Gio."

Alby membelalakkan matanya. "Lho? Temen gue juga mau ke sana kak. Si Odel, Leora, sama Ata. Jangan-jangan mereka bareng tapi masa iya nggak ngajak gue kak!?"

"Kan lo udah ada janji sama gue, Al," sahut Ardian dengan nada yang sangat lembut.

Alby tersenyum kaku, "Iya juga kak, hehe."

"By the way, tujuan kakak apa ngajak gue ke sini?" tanya Alby.

"Gue mau bilang sesuatu, Al."

Alby mengulum senyumnya. "Apa, Kak?"

"Gue sebenarnya ...."

Drttttt ....

Suara ponsel milik Ardian berbunyi di tengah rasa penasaran Alby. Membuat ucapannya terjeda sejenak. Kebetulan Ardian mempunyai dua ponsel, pria itu beranjak dari tempatnya yang sebelumnya sudah izin mau mengangkat telepon terlebih dahulu.

Alby hanya mengangguk mengiyakan. Tanpa ia sadari ternyata Sang Pelayan sudah menghampiri dan membawa pesanannya. Setelah meletakkan minuman itu, pelayan tadi pergi.

Tak ingin membuang waktu untuk cacing di perutnya, Alby melahap es krim itu dengan cepat, mumpung tidak ada Ardian, jadi ia bebas, tak perlu jaga image.

Saat tengah menikmati minuman itu, suara ponsel di depannya membuat perhatian Alby teralihkan. Itu ponsel milik Ardian yang satunya. Alby melirik sekitar, tak ada jejak Ardian di sana.

"Orang kaya, hp aja punya dua. Mungkin lebih di rumahnya."

Akhirnya, gadis itu mengambil ponsel Ardian dan terpampang jelas notifikasi telefon dari kontak dengan nama "Adik laknat." Sudah dipastikan si penelepon itu Arga.

Querencia [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang