Pagi itu tidak dimulai dengan tenang.
Suara-suara dari luar kamar memaksaku terbangun—terlalu ramai untuk disebut biasa.
Aku melangkah keluar, masih setengah sadar, dan mendapati mereka... berdiri mengerumuni satu sosok yang terasa begitu asing sekaligus terlalu aku kenal.
Untuk sesaat, aku berhenti bernapas.
Apa aku masih bermimpi?
Karena yang berdiri di sana... bukan dia yang dikenal dunia.
Tidak ada pengawal, tidak ada jarak, tidak ada sorot yang mengikutinya.
Dia tidak datang sebagai idol.
Dia datang hanya menjadi dirinya sendiri.
Dan itu justru yang membuatnya terasa lebih nyata. Tapi tetap saja sulit dipercaya.
Kau tidak mungkin datang sejauh ini, hanya untuk menghampiriku.
KAMU SEDANG MEMBACA
UNTITLED
Short StorySebut saja cerita tak berjudul. Karena aku bingung judul apa yang tepat untuk menceritakan keseharian kita. Karena semua rasa yang kurasakan terjadi di sini. Mulai dari yang namanya bahagia hingga tersakiti.
