Pagi itu, aku tidak berharap melihatmu. Dan memang bukan kamu.
Tanpa berpikir panjang, kubuka pintu, dan dua wajah itu menyambutku dengan senyum hangat.
“Hai, Sayang, bagaimana kabarmu?”
Nyonya dan Tuan Byun.
Ini bukan cerita klise seperti yang orang bayangkan.
Tidak ada larangan. Tidak ada penolakan. Justru sebaliknya, mereka menerimaku, menyukaiku, bahkan mendukungku untuk tetap bersamamu.
Lucu, ya?
Saat aku sedang berusaha belajar melepaskanmu, semesta justru mengirimkan alasan untuk tetap bertahan.
“Masuklah.”
Aku mempersilakan, menyembunyikan semua yang terjadi di balik senyum tipis.
Kami berbincang, seolah semuanya benar-benar baik-baik saja.
“Kami sengaja tidak memberi tahu.”
“Ingin memberi kejutan.”
Kejutan.... yang tidak siap kuterima. Lalu kalimat itu datang.
“Sayang, bisa hubungi Baekhyun?”
“Bilang kami ada di sini.”
Dan untuk sesaat, dunia terasa diam.
Aku? Menghubungimu?
Setelah semua yang terjadi?
Jika boleh jujur, aku sudah tidak ingin lagi
berurusan denganmu.
KAMU SEDANG MEMBACA
UNTITLED
Short StorySebut saja cerita tak berjudul. Karena aku bingung judul apa yang tepat untuk menceritakan keseharian kita. Karena semua rasa yang kurasakan terjadi di sini. Mulai dari yang namanya bahagia hingga tersakiti.
