Aku membuka pintu, dan kamu ada di sana.
Kita saling menatap, canggung. Seolah semalam tidak pernah terjadi apa-apa. Padahal aku masih berdiri di tengah kehancuran itu.
Dan aku tidak ingin tahu bagaimana keadaanmu. Karena setiap melihat wajahmu, rasa sakit ini bertambah dua kali lipat.
Ada perasaan yang bahkan tidak mampu dijelaskan oleh kata-kata.
“Sejak kapan Ayah dan Ibu di sini?”
Katamu, biasa saja. Seolah kita masih sama.
“Pagi tadi.”
Jawabku singkat, setengah hati, setengah peduli.
Aku ingin pergi. Masuk. Menutup semuanya. Setidaknya untuk hari ini.
Tapi kamu menahanku, menarikku kembali ke dalam jarak yang terlalu dekat.
Sentuhanmu mendarat lembut di pipiku. Dan tatapan itu... penuh prihatin.
“Kau sakit?”
Seperti biasa. Kamu selalu tahu saat aku tidak baik-baik saja.
Dulu, kamu bilang hatimu akan ikut kacau
jika aku terluka.
Tapi sekarang.... aku tidak yakin pria yang mengatakan itu masih orang yang sama.
Karena kamu berdiri di depanku, menanyakan keadaanku seolah kamu tidak pernah menjadi penyebabnya.
Dan aku ingin bertanya, jika kamu benar-benar tidak tahu apa-apa, lalu siapa
pria yang meninggalkanku demi wanita lain malam itu?
KAMU SEDANG MEMBACA
UNTITLED
Short StorySebut saja cerita tak berjudul. Karena aku bingung judul apa yang tepat untuk menceritakan keseharian kita. Karena semua rasa yang kurasakan terjadi di sini. Mulai dari yang namanya bahagia hingga tersakiti.
