“Aku hanya akan memohon sekali.”
Dan di detik itu, aku sadar aku sedang mengemis pada seseorang yang seharusnya menjagaku.
“Jika tidak mau ini terjadi, harusnya kamu tidak melakukannya.”
Katamu dingin. Seolah semua ini adalah salahku.
Aku menelan itu. Semua. Lalu untuk terakhir kalinya, aku mencoba.
“Kalau begitu.... lepaskan aku.”
“Aku bertahan karena kamu.”
“Dan aku akan pergi.... jika kamu memang menginginkannya.”
Tapi kau tidak menjawab. Kau bahkan tidak berani menatapku.
Dan dari situ, aku mengerti. Aku sudah tidak lagi menjadi seseorang yang ingin kau pertahankan.
Kau menyingkirkan tanganku, perlahan,
tapi cukup untuk membuatku sadar.
Lalu kau pergi. Tanpa penjelasan. Tanpa alasan.
Dan itu sudah lebih dari cukup sebagai jawaban.
Jadi benar, ya? Aku sudah tidak berarti.
Lucu sekali, apakah ada orang yang tersakiti masih sempat meminta izin untuk pergi?
Mungkin hanya aku yang terlalu bodoh mencintai seseorang hingga lupa cara melepaskannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
UNTITLED
Short StorySebut saja cerita tak berjudul. Karena aku bingung judul apa yang tepat untuk menceritakan keseharian kita. Karena semua rasa yang kurasakan terjadi di sini. Mulai dari yang namanya bahagia hingga tersakiti.
