23. Penyesalan

19.1K 607 13
                                        

[bagian baru]

🌸🌸🌸

Malam yang dingin, mewakili perasaan Arkan yang begitu digerutuki rasa bersalah. Ia menyesal, dengan kejadian beberapa tahun yang lalu, yang telah membuat Stefan -Ayah kandungnya- meninggal dunia dengan latar belakang yang cukup sadis.

Alfara yang kerap disapa Fara -Ibu kandung Arkan- memasuki kamar anak semata wayangnya itu dan ia temui Arkan yang tengah bersandar didinding balkon kamarnya.

Fara duduk disamping Arkan, lalu ia menarik kepala Arkan kedalam dekapannya. "Anak Mama gak boleh sedih terus, ya?"

Fara sangat hafal jika Arkan tidak keluar kamar seharian atau sehabis pulang sekolah tidak keluar kamar hingga larut malam, itu tandanya Arkan tengah merindukan Stefan.

Arkan meneteskan air mata, ia benar-benar lemah. "Arkan kangan Papa, Ma." ujarnya dalam dekapan Fara.

Fara mengelus kepala Arkan dengan lembut. "Mama ngerti, Mama paham sayang. Tapi kamu gak boleh nangisin Papa terus, nanti Papa nggak tenang disana."

Arkan melepaskan pelukannya, lalu menatap Fara lekat-lekat. "Arkan anak yang paling bodoh Ma, gak bisa jagain Papa, gak bisa bikin Papa aman. Malahan gara-gara dendamnya orang itu ke Arkan, Papa jadi kena imbasnya."

Fara mengusap air mata Arkan, "Sssttt, kamu gak boleh ngomong gitu sayang. Kamu itu anak laki-laki yang selalu bisa bikin orang tua senang! Kamu gak boleh ngomong gitu, ya?"

Rahang Arkan mengeras, pandangannya ia alihkan. "Arkan gak bakal biarin orang itu tenang, gak akan!"

"Sayang, udah. Biarin aja dia hidup dengan tenang. Kejahatan gak boleh dibales dengan kejahatan lagi, udah kamu harus ikhlas. Papa udah tenang disana."

"Nggak Ma nggak, dia udah bikin Papa Arkan meninggal. Arkan harus jeblosin dia kepenjara, kalo perlu Arkan habisin dia! Biarin aja Arkan yang masuk penjara, yang penting Arkan udah puas balas dendam Arkan!"

Fara menggeleng, lalu memegang pundak Arkan dan mengguncangkannya. "Hey, sayang... Mama dan Papa gak pernah ngajarin kamu menjadi orang yang dendaman." tangan Fara beralih mengelus rambut Arkan. "Dengerin Mama, Arkan... kalo Arkan sayang sama Mama dan Papa, jangan pernah lakuin ajang balas dendam itu lagi. Itu gak akan merubah apapun Nak, itu hanya menyuramkan masa depan kamu, akibat dari semua itu akan berbalik ke diri kamu sendiri Nak, Mama gak mau itu terjadi."

Air mata Arkan bertambah deras, "Arkan gak pernah ngebayangin kalo Arkan bakalan kehilangan Papa, padahal Arkan selalu berdoa sama Tuhan untuk ambil Arkan satu hari sebelum Tuhan ambil Papa ataupun Mama."

Mata Fara berkaca-kaca, ia terus mengelus kepala Arkan. "Nak, ajal sudah ditentukan sama Allah. Kepergian Papa, itu yang terbaik karena Allah yang paling tau segalanya..."

Sedetik kemudian, Fara memeluk erat tubuh hangat Arkan. "Kamu masih punya Mama dan Papa Reno, gak seharusnya kamu merasa sendiri."

Meski kehadiran Fara cukup membuat hati Arkan tenang dan teduh kembali, namun penyesalan tetap saja mendominasi didalam dirinya.

~~~

"Balikin cokelat gue, Abang!"

"Gue kehabisan cokelat, lagi bm banget gue."

Aku, Kau, dan Hujan. [COMEBACK FULL VERSION]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang