29. Malam Bermakna

17.6K 652 15
                                        

[bagian baru]

🌸🌸🌸

Pulang sekolah kali ini, Iluvia pulang bersama Lia. Lia akan menginap dirumah Iluvia karena kedua orang tuanya sedang ada urusan pekerjaan yang mengharuskan mereka meninggalkan putri kecilnya keluar kota, dan berhubung besok adalah tanggal merah jadi mereka malam ini bisa bergosip ria sampai tengah malam kalau saja kekuatan begadangnya memenuhi kapasitas.

"Nih pake helmnya," Lia memberikan helm yang sengaja ia bawa untuk Iluvia.

"Nggak ugal-ugalan kan Ia?" jawab Iluvia mengambil helm itu dengan ragu.

Lia melolot, "Lo kira gue gue pembalap!" serunya lalu menaiki motornya setelah memakai gardigan abu-abunya.

Iluvia menyengir, lalu naik keboncengan. "Lo nggak pamit dulu sama sang pacar?"

"Udah dong! Nanti lo jangan panas ya kalo gue tiap detik selalu vidcall-an sama Billy," kata Lia terkekeh sambil memencet tombol stater dimotor maticnya.

"Oh kalo gitu lo nggak usah tidur dikamar gue Ia, pisah kamar aja kita."

"Seriusan? Kamar siapa dong? Bang Alga? Yaudah! Rela gue, khlas Lillahita'ala, betah!" seru Lia mantap.

"Anjir itu sih mau lo! Mau diamuk sama Kak Clara?" ancam Iluvia.

"Yeh, enggak lah. Tapi kan lo yang nyuruh." kata Lia.

"Ih udah ah buruan jalan, udah laper banget gue." Iluvia memukul pelan punggung Lia.

"Ih iya iya, bawel lu."

~~~

Dika merebahkan tubuhnya disofa, hari ini dia merasa sangat penat. Sesekali pikiran melintas untuk memaksanya kembali ke Amsterdam, namun hatinya selalu saja menolak. Ia masih memiliki misi yang belum tercapai, jika misi itu sudah tercapai dia pun akan dengan senang hati pergi jauh meninggalkan negara kelahirannya ini. Otaknya berpikir keras, ia harus secepatnya selesaikan misi ini, dendamnya harus segera ia tuntaskan agar ia tidak usah berurusan lagi dengan masa lalu. Sebenarnya ada sebagian dari dirinya menyuruhnya untuk berhenti, berhenti dari semua ini karena ini semua tidak akan ada ujungnya. Ia tahu itu, tapi sebagian dari dirinya lagi berkata; tidak apa-apa lanjutkan saja, setidaknya hati berhasil puas karena semuanya sudah terbalaskan.

Matanya menutup, tangan yang ia sebelumnya ia gepal mulai memudar dan melemas. Sepertinya ia butuh istirahat, tidak semuanya mesti diselesaikan hari ini. Oke, besok ia akan coba kembali.

~~~

Malam ini, setelah melakukan aktivitas maskeran, Iluvia dan Lia keluar kamar untuk makan malam dan bermain PS bersama Alga.

"GTA dong Bang! Lia kangen banget game itu."

"Abang mau main bola dulu, siapa yang mau lawan Abang?"

Iluvia melengos, "Jangan mau Ia, dia mah curang." katanya ketus.

Alga terkekeh, "Dih, curang dari mana? Emang elu aja kali yang kalo lawan gue kalahan mulu. Lemah!" katanya lalu mengacak-acak rambut Adiknya.

Iluvia menggeruru. "Iiiihhhh! Jangan Ia, pokoknya jangan mau!!"

Lia terkekeh. Kadang pemandangan Kakak Beradik seperti ini yang ia dambakan. Selama hidupnya, ia selalu merasa seperti hidup sendiri. Tidak punya Kakak atau Adik, kedua orang tua selalu sibuk dengan pekerjaan, dirumah selalu sendirian; terkadang bingung harus menceritakan kisahnya 'hari ini' dengan siapa, ia merasa hidupnya suram sekali. Maka dari itu kini Lia sangat beruntung memiliki Billy yang humoris, serta romantis. Billy si pengundang tawa, si pembawa ceria, si penguasa kebahagiaan, si pewarna hidup, Billy begitu berarti untuk Lia si gadis yang malang.

Aku, Kau, dan Hujan. [COMEBACK FULL VERSION]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang