Attention!
Chapter ini merupakan chapter terpanjang yang pernah saya ketik, jadi mohon membacanya disaat sedang ada waktu luang saja. Dan maaf apabila cerita yang saya ketik memiliki alur cerita yang tidak jelas, maupun ada typo dalam pengetikan.
–Selamat membaca–
Gelap, hanya itu yang dapat dilihat Jin saat ini.
Jin pikir mungkin sedang ada gilir mati listrik saat ini, jadi dia tenang-tenang saja, sebelum akhirnya ia sadar jika ia sedang duduk di sebuah kursi dengan keadaan tubuh terikat kuat di kursi.
Karena masih baru terbangun dari tidur, kecepatan cara berpikir Jin masih lambat, ia hanya mengedipkan matanya berkali-kali sambil memikirkan apa yang ia lakukan sebelumnya.
Yang terbesit di pikiran Jin hanya, ia pergi tidur dengan boneka alpaca kesayangannya semalam dan akhirnya terbangun di ruangan gelap dengan tubuh terikat kuat di kursi.
Apa yang telah terjadi?
Seolah mendapat kejeniusan yang tiba-tiba menghampiri otaknya, Jin langsung berontak berusaha melarikan diri. Tidak perlu menerka terlalu jauh, sudah pasti Jin telah menjadi korban penculikan dan juga penyekapan saat ini.
Jin mulai panik, keringat dingin membasahi tubuhnya. Dengan keadaan yang masih gelap gulita, Jin berusaha mencari setitik cahaya yang mungkin bisa membantunya mengetahui dimana keberadaannya sekarang.
Namun nihil, hanya gelap dan kesunyian yang menghampirinya saat ini.
Disaat ada inisiatif untuk berteriak, saat itu juga Jin baru menyadari jika mulutnya dalam keadaan diplaster.
Cobaan macam apa yang telah menghampiri Jin?
Jin terus berontak, berusaha melepas ikatan tali pada tubuhnya. Ia tak mempedulikan tubuhnya yang mulai terasa sakit akibat ikatan yang semakin kuat seiring usahanya untuk melepas ikatan pada tubuhnya.
Segalanya semakin sulit bagi Jin, dimana semua orang? Apakah mereka sudah dibantai, dan Jin akan menjadi korban terakhir nantinya?
Jin tak bisa membayangkan bagaimana perasaannya jika hal yang ia pikirkan memang benar. Ayolah, Jin masih dalam keadaan jomblo, bisa habis harga dirinya jika meninggal dalam keadaan jomblo, padahal dia memiliki wajah yang rupawan. Apa kata malaikat nantinya?
Disaat rasa putus asa mulai menghampiri dirinya, terdengar suara langkah kaki yang semakin mendekat.
Jantung Jin berdegup semakin kencang, inikah saat eksekusi terhadap dirinya?
Jin bersusah payah menelan ludahnya, langkah kaki itu semakin dekat, membuat tubuh Jin semakin basah akibat keringat dingin yang terus-menerus mengalir.
Tangan Jin bergetar, bahkan saking paniknya, kepalanya terasa pening. Jika rasa paniknya melebihi ini, tak menutup kemungkinan jika akhirnya ia mimisan nantinya.
Setitik cahaya merasuk kedalam mata Jin, berbarengan dengan pintu yang terbuka.
Tunggu, tempat ini tak asing.
Dengan cahaya yang minim, dapat Jin lihat jika ia berada di gudang saat ini. Gudang apartemen lebih tepatnya.
Jadi, pembantaian ini terjadi di apartemen tempat tinggalnya sendiri? Oh, jangan sampai nanti Jin melihat Jungkook tergeletak di meja makan dengan perut robek, Jimin di bak mandi bermandikan darahnya sendiri, maupun Yoongi yang tidur selamanya di ranjangnya dengan luka di seluruh tubuhnya.
Tidak, jangan sampai!
Ah, kenapa pikiran Jin merembet kemana-mana? Ini semua karena film yang ia tonton dengan Namjoon kemarin sore, keterlaluan. Seharusnya ia tak menuruti ajakan Namjoon untuk menonton film psikopat itu tempo hari, karena film itu ia jadi paranoid seperti ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
Bangtan Life
FanfictionAttention! Cerita ini hanyalah cerita ringan yang cocok dibaca disaat waktu luang, cerita ini bukanlah cerita bersambung yang memiliki konflik yang berat. Cerita ini ditulis untuk menghibur para pembaca, thanks buat yang udah mampir. ______________...
