14. Wejangan

3.9K 231 4
                                        

"Aurara. Good name and good girl. Cewek humoris. Boleh lah nyeimbangin lo yang kaku bak kaos kaki yang nggak dicuci sepuluh tahun."

Kaka hampir berjingkat karena tiba-tiba suara menyebalkan itu menyambutnya saat keluar dari kamar mandi. Suri, kakaknya itu duduk bersila di atas ranjangnya dan lebih menyebalkan lagi ponselnya berada di genggaman cewek jadi-jadian itu.

"Nggak sopan lo," ucap Kaka ketus sembari merebut kasar ponselnya.

Suri mengangkat bahu acuh. "Ya sorry."

"Sana keluar! Mau ngapain lo ke kamar gue?" usir Kaka dengan tidak santai.

Suri mengehela napas panjang. Sebenarnya dia tidak ada maksud apa-apa kemari. Hanya numpang rebahan dan menikmati adem dan damainya kamar Kaka. Suri sudah bosan dengan kamarnya yang seluruhnya berwarna hitam, dan juga berantakan. Enak disini.

"Gue nggak mau ngapa-ngapain sebenernya. Tapi gue punya tujuan setelah baca chat lo sama PACAR baru lo itu," ucap Suri penuh penekanan di kata pacar.

Kaka hanya diam. Tak berniat menanggapi.

Suri menggeser duduknya. "Sini duduk cah ganteng," ucapnya sembari menepuk bagian kosong di sampingnya.

Kaka mendengkus, hendak protes namun akhirnya memilih menurut. Dia sedang malas ribut sore ini.

"Apa?"

"Tenang. Selow dong." Suri memperbaiki duduknya menjadi lebih tegak. Lalu berdehem. "Lo suka, sayang sama pacar lo?" tanya Suri to the point.

Kaka sontak menatap datar wajah Suri yang sudah penasaran. "Kepo lo."

Suri menabok lengan Kaka dengan kuat. "Bisa nggak, ditanya orang tuh jawabnya yang bener. Udah jelek, pake segala judes segala. Manusia macem apa lo," cerca Suri saking kesalnya.

"Keluar sana lo! Kesini ngajak ribut doang buat apa," ucap Kaka setelah puas mengumpat untuk lengannya yang beberapa saat berdenyut nyeri akibat pukulan Suri.

Suri menggeleng tegas. "Bodo amat lo mau ngomong apa. Gue akan tetep di sini sampe gue dapet apa yang gue cari," keukeuhnya.

Kaka berdecak. Menghela napas panjang. "Lo mau cari apa?"

"Cari jawaban sebenarnya apa perasaan lo sama pacar lo itu," jawab Suri mantap.

"Sejak kapan lo jadi ngurusin hidup orang?" heran Kaka. Karena Suri adalah tipe yang bodo amat sama hidup orang. Ya, dia memang humoris dan juga bar-bar. Tapi dia sama seperti dirinya, tidak suka mencampuri urusan orang lain.

"Lo termasuk orang?"

"Hm."

"Gue meyakini kalo lo samsak padahal." Suri mengedikkan bahu. Lalu teringat apa topik utama yang akan dia bahas kali ini. "Back to topic. Lo sayang sama pacar lo?"

"Nggak."

"Ck. Dimana-mana, kalo udah pacaran tuh saling sayang. Jadi, cuma dia doang yang menjunjung tinggi perasaan dalam hubungan kalian?" tanya Suri. Ini bahasan yang menarik.

"Bahasa lo." Kaka terkekeh.

Suri menabok lagi lengan Kaka. "Gue serius."

"Shit. Sakit Kak," umpat Kaka. Lama-lama begini, bisa-bisa lengannya berubah jadi lengan geprek.

"Lemah!" ledek Suri.

Kaka mendengkus.

"Ribet lo. Daritadi tinggal jawab muter-muter mulu. Jadi, dia doang yang sayang dan lo nggak sayang dia?" Suri bertanya.

"Iya,"  jawab Kaka datar.

"Bodoh." Suri mendesis. "Kalo udah pacaran, nggak ada waktu untuk namanya belajar menyayangi. Pacaran itu fase dimana kita lebih jelas menyalurkan rasa kasih sayang. Lebih terfokus. Lah kalo kasus lo ini, lo cuma akan memberi sedikit demi sedikit rasa sakit buat dia. Dia memperlakukan lo manis karena dia sayang. Dan balasan lo apa? Lo balas perlakuan itu karena kasihan, karena formalitas.

Kaka&Rara [Completed]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang