"Jadi kita ke rumah kamu?" tanya Aurara saat sudah turun dari motor Kaka. Tadi Kaka menjemputnya, berkata hendak mengajaknya pergi. Dan sekarang, mereka justru berakhir di rumah Kaka.
"Iya. Hari minggu waktunya gue olahraga," jawab Kaka lalu melengang masuk diikuti Aurara.
"Kenapa? Lo nggak mau kesini?" tanya Kaka lagi.
"Enggak, dong! Aku malah seneng main ke rumah kamu lagi," jawab Aurara. Dia kemudian menghentikan langkahnya. "Tapi, Kaka, aku takut ketemu Bunda kamu."
"Kenapa? Bunda gue nggak gigit."
Aurara meringis. "Takut dimarahin karena kamu waktu itu bolos karena aku," ucapnya cemas.
"Bunda nggak seperti apa yang lo pikirkan, Ra," ucap Kaka menenangkan.
Aurara menghela napasnya perlahan. Dia mengangguk pada Kaka untuk melanjutkan perjalanan. Aurara menolehkan kepalanya kesana kemari. Memperhatikan saksama bagian rumah Kaka yang belum dia lihat sebelumnya. Jika rumah Aurara terbilang besar, rumah Kaka lebih besar lagi. Dan entah mau dibawa kemana Aurara, mereka terus berjalan ke belakang.
"Lagi enggak ada orang, ya Kaka?" tanya Aurara saat melihat kondisi rumah Kaka sangat sepi.
"Ada semua, Ra," jawab Kaka. Lalu mereka pun tiba di depan sebuah pintu besi. Kaka mendorongnya, sebuah lapangan berlantai hijau langsung terlihat. Di tengah lapangan itu terbentang sebuah net. Aurara yakin, ini adalah lapangan bulu tangkis namun dalam ukuran yang lebih kecil.
Aurara berdecak kagum. Tanpa sadar berjalan maju lebih dulu demi bisa melihat jelas lapangan mini ini.
"Di sini dulu. Gue tinggal sebentar," ucap Kaka lalu tanpa menunggu jawaban Aurara melangkah masuk ke dalam rumah. Meninggalkan Aurara yang sekarang tengah berjalan menuju tengah lapangan.
"Ya ampun, berapa hektar ya tanah rumah ini. Rumahnya udah besar, pake ada lapangan bulu tangkis segala lagi. Rumah gue segitu aja gue nggak bisa bayangin kalo dijual dapet berapa duit. Apalagi rumah ini," gumam Aurara geleng-geleng tak habis pikir.
Aurara tidak pernah memandang materi. Tidak peduli jumlah nilai harta miliknya atau bahkan orang lain. Aurara pun bukan tipe orang yang memandang status orang lain berdasarkan materi. Jika orang itu baik, Aurara akan berteman dengannya, kalau orang itu tidak baik, ya cukup tau saja. Karena menurut Aurara, materi itu tidak penting dan tidak dibutuhkan dalam kehidupan sosial. Namun melihat rumah Kaka, entah kenapa Aurara jadi berpikir begitu.
"Norak."
Aurara refleks menoleh. Dia mengerjap saat melihat Suri dengan pakaian rumahannya berjalan menghampirinya dengan muka datar.
Aurara kembali mengulang perkataan Suri dalam hati. Aurara menegak ludah, agak tersinggung juga dikatai begitu.
Namun tiba-tiba Suri tertawa renyah. Semakin mendekat lalu mengulurkan tangan menepuk pundak Aurara.
"Bercanda," ucapnya yang langsung membuat Aurara mengembuskan napas lega.
"Setiap hari minggu, kita lebih diutamain di rumah aja. Quality time sama keluarga. Ngabisin waktu bareng-bareng, contohnya di sini. Main bulutangkis," ucap Suri lagi. Dia menyapu pandang sekitar. Lapangan ini terlihat bersih. Mungkin baru saja Pak Asep bersihkan. Mengingat tidak adanya atap, sehingga jika hujan akan becek, atau jika sedang ada angin kencang dedaunan kering mengotori lantai lapangan. Lapangan bulutangkis mini ini berkonsep outdoor.
"Yang main Kaka sama Ayah atau Kak Suri dan Bunda juga ikutan?" tanya Aurara. Tidak ada rasa sungkan atau canggung mengingat Aurara adalah pribadi yang mudah bergaul.
KAMU SEDANG MEMBACA
Kaka&Rara [Completed]
Teen Fiction[DISARANKAN FOLLOW TERLEBIH DAHULU BIAR KEREN KAYAK SAYA] ___________ Brukk Tubuh Kaka ambruk saking terkejutnya. Aurara, cewek itu tiba-tiba melompat naik ke punggungnya, yang otomatis membuat Kaka tersungkur ke depan karena sama sekali tidak siap...
![Kaka&Rara [Completed]](https://img.wattpad.com/cover/184402218-64-k695750.jpg)