Flashback on
Aurara yang hendak pergi ke perpustakaan terpaksa menghentikan langkahnya tepat di depan pintu ruang musik. Di sana tengah berdiri Mikhayla bersama satu temannya yang tidak Aurara kenal.
"Eh, halo Kak Mikha," sapa Aurara melambaikan tangan dan tersenyum.
Mikhayla balas tersenyum. Kemudian menyenggol lengan temannya seolah memberi kode. Cewek berambut sebahu itu kemudian mengangguk. Bergerak maju dan menarik tangan Aurara untuk masuk ke dalam ruang musik. Saat dua orang itu sudah masuk, Mikhayla mengikuti, tak lupa menutup pintu.
"Eh, Kak. Ngapain kita di sini? Mau coba nyanyi bareng?" tanya Aurara bingung.
"Lisa," panggil Mikhayla pada cewek rambut sebahu. Yang dimaksud menoleh. Mengangguk lalu mendorong Aurara dan menyudutkannya ke dinding.
"Kak, aku mau di-" ucapan Aurara terpotong saat cewek yang diketahui Aurara bernama Lisa itu meremas bahunya keras. Membuat Aurara meringis.
"Sakit, Kak!"
Mikhayla tiba-tiba menggeram marah. Dia maju, membuat jaraknya dan Aurara semakin dekat.
"Sakitan mana sama perasaan gue hah?! Kaka, cowok yang udah gue taksir selama dua tahun justru lo rebut seenak jidat! Sakitan mana, hah? Gue!" gertak Mikhayla. Tatapan matanya tajam. Suaranya terdengar kasar, tidak seperti biasanya.
Lisa bertambah mencengkram lengan kiri Aurara. Sementara tangan kanannya meremas bahu kanan Aurara. Cewek itu menatap Aurara penuh ketidaksukaan.
"Lo tuh nggak pantes sama Kaka. Cewek bego, nggak cantik-cantik amat. Lo tuh jauh beda sama Mikhayla!" cerca Lisa tidak punya perasaan.
Aurara diam sembari terus menahan sakit pada pundak dan lengannya.
"Mau gue sebutin apa aja perbedaannya?" Lisa tersenyum licik. "Lihat, Mikhayla tuh punya fisik yang proposional. Dia cantik. Mukanya kayak bule. Sedangkan lo apa?! Cuma cewek bogel dengan muka pas-pasan banget. Dan lo mau nyaingin Mikha dapetin Kaka? Oh my. Nggak punya kaca lo di rumah?"
Mikhayla bersedekap dada. Tersenyum penuh arti seolah sangat menikmati raut kesakitan Aurara.
"Lihat lagi, kemarin Kaka sama Mikhayla menangin Olimpiade Fisika Nasional. Mereka berhasil bawa piala buat sekolah ini. Mereka berdua semakin dibanggakan para guru. Semua murid juga kagum sama mereka. Itu udah cukup jadi bukti bahwa mereka emang cocok. Sama-sama berotak encer. Dan lo dengan pedenya selama ini ngejar-ngejar Kaka?" Lisa mendesis tajam. Semakin mendorong punggung Aurara ke tembok. Tak memberi kesempatan Aurara untuk sekadar mengelak atau membalas perkataannya.
Mikhayla tertawa renyah. Mengibaskan rambut pirangnya lalu mengangkat tangannya. "Lepasin Lis. Kasian mukanya melas banget," ucapnya pada Lisa.
Lisa menurut. Melepas cengkraman pada bahu dan lengan Aurara kemudian cewek itu mundur ke belakang Mikhayla. Mikhayla berganti berdiri tepat di hadapan Aurara. Dia menunduk sedikit, menatap lekat Aurara.
"Gue selama ini diem. Gue kira lo masih punya malu dan sadar lalu akhirnya mundur," terang Mikhayla. "Tapi gue salah. Lo justru makin maju. Dan lo dengan beraninya ngehasut Kaka buat jauhin gue, ngebenci gue!" Mikhayla mengangkat paksa dagu Aurara, membuat Aurara menatapnya.
"Jadi ini yang diajarin orang tua lo? Jadi cewek murahan," cacinya pelan namun penuh penekanan. Tangannya menjambak keras rambut Aurara. Senyum penuh kemenangan terukir ketika Aurara nampak menahan sakit.
Napas Aurara naik turun. Sedari tadi Aurara masih diam. Masih menghargai kedua orang di depannya ini sebagai kakak kelas. Namun kali ini mereka makin kelewatan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Kaka&Rara [Completed]
Teen Fiction[DISARANKAN FOLLOW TERLEBIH DAHULU BIAR KEREN KAYAK SAYA] ___________ Brukk Tubuh Kaka ambruk saking terkejutnya. Aurara, cewek itu tiba-tiba melompat naik ke punggungnya, yang otomatis membuat Kaka tersungkur ke depan karena sama sekali tidak siap...
![Kaka&Rara [Completed]](https://img.wattpad.com/cover/184402218-64-k695750.jpg)