Aurara tersenyum geli melihat beberapa fotonya dengan Kaka. Tak banyak, namun baginya itu lebih dari cukup.
Melihat Aurara tertawa di sampingnya, Kaka pun menoleh. Alisnya terangkat. "Kenapa?"
Aurara nyengir. Dia menggeleng. "Aku lagi seneng aja. Bahagia malah," ucapnya lalu melanjutkan menikmati sop buahnya.
Setelah berkeliling Kota Tua menggunakan sepeda ontel, Kaka mengajak Aurara untuk beristirahat sekaligus menyegarkan tenggorokan dengan menikmati sop buah di warung yang tak jauh dari tempat mereka semula berada.
"Lo seneng?" tanya Kaka.
"Seneng. Banget," jawab Aurara. Binar wajahnya sangat menunjukkan jika dia sangat senang.
"Gue juga."
Ucapan Kaka membuat Aurara semakin melebarkan senyumnya. Tidak pernah Aurara duga hari ini akan terjadi. Padahal Kaka belum menyatakan perasaanya, namun rasanya Aurara sudah dibuat melayang-layang hari ini. Ah, memangnya Kaka akan menyatakan apa? Perasaan apa? Terlalu percaya diri lo, Ra. Batin Aurara.
"Kaka," panggil Aurara. Mencoba mengalihkan pikiran ngawurnya.
"Hm?" jawab Kaka tanpa menoleh.
"Kenapa kita makan di sini?"
"Kenapa? Lo mau makan di restoran?"
Aurara menggeleng cepat. "Bukan gitu. Aku heran aja horang kaya kayak kamu jajannya suka di pedagang kaki lima."
Kaka menoleh. Kemudian kembali pada sop buahnya. "Nggak ada hubungannya kaya atau miskin sama makan di warung atau restoran. Kalo mau makan ya makan aja apa yang ada," jawabnya.
Aurara seketika terkesan. Jawaban Kaka tidak sama sekali ditemukan sebuah kesombongan. Duh, Aurara jadi makin sayang.
"Jadi, kalo adanya batu ya batunya dimakan?" tanya Aurara. Iseng.
Kaka seketika menoleh. Dia menyentil dahi Aurara pelan. "Ya nggak gitu juga, Pinter."
Aurara mengaduh pelan, namun kemudian nyengir lebar.
"Gimana keadaan Nenek lo?" tanya Kaka.
"Eh? Kaka tahu darimana Nenek aku sakit?" Aurara bertanya bingung.
"Lo pernah ngomong," jawab Kaka santai.
Aurara menatap langit-langit warung sop buah yang terbuat dari terpal yang dibentangkan. Mencoba mengingat-ingat apakah dirinya pernah bercerita pada Kaka jika nenek sakit. Namun seingat Aurara tidak pernah.
Kaka terkekeh kecil. Mengusap cepat puncak kepala Aurara. "Penting banget emang diinget-inget?"
Aurara menoleh. "Iya, dong! Perasaan aku nggak pernah cerita. Eh apa jangan-jangan kamu pernah ngikutin aku, ya?"
Kaka menaikkan sebelah alisnya. "Ngapain gue ngikutin lo. Kurang kerjaan," jawabnya terkesan acuh.
"Ya terus tahu dari mana?!" Aurara jadi nge-gas.
"Kok gitu nadanya?" Kaka memasang raut datarnya.
Mendengar pertanyaan Kaka, Aurara menautkan alisnya bingung. Dia memajukan tubuhnya lalu tangannya terangkat mengecek dahi Kaka. Kemudian beralih mengecek dahinya sendiri.
"Suhunya sama. Tapi ... Kaka kok jadi bawel?" herannya.
"Gimana keadaan nenek lo?" Kaka mengalihkan percakapan. Membuat Aurara semakin merasa aneh saja.
"Ehm, nenek aku udah baikan. Kata Mbak Nay hari ini bisa pulang."
"Oh, syukur lah."
Ting!
KAMU SEDANG MEMBACA
Kaka&Rara [Completed]
Teen Fiction[DISARANKAN FOLLOW TERLEBIH DAHULU BIAR KEREN KAYAK SAYA] ___________ Brukk Tubuh Kaka ambruk saking terkejutnya. Aurara, cewek itu tiba-tiba melompat naik ke punggungnya, yang otomatis membuat Kaka tersungkur ke depan karena sama sekali tidak siap...
![Kaka&Rara [Completed]](https://img.wattpad.com/cover/184402218-64-k695750.jpg)