46. Permohonan

3.7K 233 20
                                        

Kaka menggaruk belakang kepalanya dengan kekehan geli. Aneh dan malu sendiri membaca chat terakhirnya dengan Aurara.

Jika diingat-ingat, akhir-akhir ini jantung Kaka terasa ingin meledak saking banyaknya hal tak terduga terjadi antara dirinya dan Aurara. Cewek dengan wajah cantiknya itu mampu membuat hati Kaka ketar-ketir tak karuan.

Dunia Kaka ... seakan berputar hanya pada Aurara sebagai pusatnya.

Sembari menunggu balasan, Kaka beranjak berdiri hendak menuju kamar mandi untuk mencuci muka. Setelah beberapa menit Kaka pun kembali. Naik ke atas ranjangnya dan duduk bersandar pada kepala ranjang.

Diambilnya ponselnya lagi dan mengecek jika sudah ada notifikasi chat dari Aurara. Tanpa sadar senyumnya terukir. Namun belum sempat Kaka membukanya, sudah ada sebuah panggilan dari nomor tak dikenal. Kaka mengangkat tinggi alisnya. Nomor tak dikenal ini sudah menelponnya sebanyak dua kali. Dan ini adalah ketiga kalinya.

Agar tak mengganggu lagi, Kaka pun mengangkatnya. Kaka tidak mengatakan sepatah kata pun. Menunggu si penelpon duluan berbicara.

Terdengar helaan napas lega di ujung telepon yang dilanjutkan dengan suara lembut yang memanggil namanya dengan pelan.

"Siapa?"

Setelah mendengar jawaban si penelpon tubuh Kaka langsung menegak. Dia bangkit dari sandarannya. Rahangnya mengeras seketika dengan raut wajah yang mengeruh marah. Tanpa menunggu lagi Kaka memutus sambungan secara sepihak.

Kaka melempar asal ponselnya. Melupakan chat Aurara yang sudah ditunggu untuk dibalas.

Sialan!

***

Zidan menutup mulutnya dengan lengan kanannya menahan tawa yang siap meledak. Hal yang sama dilakukan oleh Seno. Cowok itu malah membalikkan badan menghadap punggung kursi dengan bahu bergetar manahan tawa sekuat tenaga. Sementara di sebrang mereka Kaka tengah bersandar pada punggung kursi dengan tangan terlipat di dada dan wajah yang menatap datar.

"Apa lo berdua?" tanya Kaka ketus.

Runtuh sudah pertahanan Zidan dan Seno. Kedua cowok itu segera memenuhi warung DPR alias di bawah pohon rindang ini dengan gelak tawa yang menggelegar.

"Orang gila," cibir Kaka masih dengan wajah datar.

Zidan mengembungkan pipi. Mencoba menelan kembali tawanya. Dia menatap Kaka dengan kerlingan menggoda. "Enak ya Ka yang kemaren?"

"Gimana Ka rasanya? Gimana? Ini first time, kan?" Seno menaik turunkan alisnya menggoda.

"Mikir, dong, Sen. Yaiyalah ini first time. Mana mungkin Kaka pernah pas dulu," ledek Zidan semakin menjadi.

Namun itu tak berlangsung lama karena Zidan dan Seno terkejut saat tiba-tiba Kaka tertawa renyah. Kaka masih dalam posisinya, menatap kedua temannya bergantian.

"Iya. Pipi dia halus banget. Terus wangi," ucapnya masih dengan tawanya.

Zidan dan Seno terdiam dengan mulut ternganga lebar. Mereka saling melempar pandang dengan alis berkerut. Masih terkejut Kaka mengatakan itu dengan tertawa-tawa.

Kaka&Rara [Completed]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang