Sudah dua hari. Namun Aurara masih sering hendak pergi ke kelas Kaka untuk ke kantin bersama. Aurara harus diingatkan Nimas dulu jika dia masih dalam masa move on. Aurara selalu mengeluh dan merutuki kebodohannya. Bagaimana bisa dia lupa atas janjinya sendiri?
"Pembully!"
Aurara menoleh saat seorang cewek mengucapkan itu tepat saat dirinya melintas.
"Untung aja Kak Mikha baik nggak mau laporin lo ke guru. Kalo iya udah di drop out kali lo," tambah cewek itu. Cewek itu sepantaran dengan Aurara. Namun sepertinya cewek itu ada di tempat kejadian. Dan sepertinya Mikhayla memperingatkan semua yang menyaksikan agar tidak melaporkannya pada guru.
Aurara memejamkan mata erat. Menahan emosinya agar tidak keluar. Kembali mengulang dalam hati ucapan Nimas kemarin saat dirinya meladeni olokan mereka yang tidak tau kebenarannya.
"Jangan diladenin. Biarin aja. Makin diladenin mereka makin menjadi."
Aurara memilih melengos. Melanjutkan langkah. Terkadang terlintas di benak Aurara jika hidup ini tidak adil. Kebahagiaannya jauh lebih sedikit dibanding kesedihannya. Merasa Tuhan pilih kasih terhadap takdir hamba-Nya.
Namun jauh lebih dari pikiran itu, Aurara belajar banyak dari setiap kebahagiaan maupun kesedihan yang telah dilewatinya. Bahwa tanpa kebahagiaan seseorang tidak akan pernah mengenal kata syukur. Begitupun tanpa kesedihan, seseorang tidak akan pernah mengenal kata sabar. Dasarnya, semua tergantung dari diri kita dalam menyikapinya.
Niat awal hendak menyusul Nimas ke perpustakaan, langkah Aurara justru berakhir di taman belakang sekolah. Menyadari itu, Aurara menghentikan langkahnya. Menoleh ke sana ke mari lalu memandang kakinya sendiri dengan bingung.
"Nih kaki ngapain ke sini coba?" Aurara bermonolog. Dia mengeluh dalam hati, betapa tidak fokusnya dia hingga berjalan pun tiba-tiba nyasar ke sini.
Aurara lantas menghela napas. Tanpa disadari, momen-momen bersama Kaka beberapa kali terjadi di sini. Dari yang menjengkelkan, manis hingga akhirnya menyakitkan. Dimana kata selamat tinggal itu terlontar dari bibir Aurara.
"Eh? Ada orang?" gumam Aurara saat menyadari ada seseorang yang terlihat membungkukkan badan di bawah pohon.
"Itu orang bukan setan, kan?" teriaknya.
Entah dorongan darimana, Aurara justru berjalan mendekat saat tidak ada jawaban dari orang itu. Semakin dekat, hal pertama yang Aurara amati adalah...
"Alhamdulillah kakinya masih napak," ucapnya lega.
Semakin dekat lagi ....
"Lah? Cowok?"
Hingga ujung kakinya dengan kaki cowok itu bersentuhan, betapa terkejutnya Aurara saat cowok itu mendongak.
"Kaka?"
"Kamu ... ngapain ke-, astaga! Kaki kamu berdarah!" Aurara berseru kaget saat dilihatnya telapak kaki Kaka berdarah.
Saat membungkuk tadi, Kaka sedang melepas tancapan paku pada telapak kaki kanannya. Entah paku dari mana yang menembus sepatu dan akhirnya menancap pada telapak kakinya. Yang pasti paku itu cukup besar.
Tiba-tiba Aurara melepas dasinya, dengan cepat berjongkok lalu mengikatkannya pada telapak kaki Kaka yang terluka dan terus mengeluarkan darah berharap darahnya dapat tersumbat hingga mereka tiba di UKS nanti. Kaka menatap dalam diam. Tak ayal senyumnya tercetak.
"Yaudah ayo aku anter ke UKS," seru Aurara panik lalu tanpa menunggu jawaban Kaka cewek itu mengalungkan lengan Kaka pada lehernya. Sementara tangan kirinya berada di pinggang Kaka untuk menjaga keseimbangan tubuh mereka.
KAMU SEDANG MEMBACA
Kaka&Rara [Completed]
Fiksi Remaja[DISARANKAN FOLLOW TERLEBIH DAHULU BIAR KEREN KAYAK SAYA] ___________ Brukk Tubuh Kaka ambruk saking terkejutnya. Aurara, cewek itu tiba-tiba melompat naik ke punggungnya, yang otomatis membuat Kaka tersungkur ke depan karena sama sekali tidak siap...
![Kaka&Rara [Completed]](https://img.wattpad.com/cover/184402218-64-k695750.jpg)