"Bunda, Kaka bawa cewek malem-malem. Ceweknya berantakan."
Mendengar teriakan bernada terkejut dan mengadu itu membuat Kaka memutar bola mata malas. Tangannya sudah terangkat hendak mendorong Suri untuk memberinya jalan. "Apaan, sih? Minggir lo."
Suri menggeleng tegas. Dia memicing curiga, pikiran-pikiran buruk mulai melanglang buana dalam otaknya. "Lo nggak boleh masuk kalo belum jelasin ini semua."
Berdecak terlebih dahulu, Kaka meraih telapak tangan Aurara untuk digenggam, lalu menubruk tubuh Suri untuk masuk. Tak peduli jika kakaknya itu akan semakin mengomel.
Tiba di ruang tamu, Kaka mendudukkan Aurara di sofa.
"Diem di sini. Jangan ke mana-mana," tutur Kaka. Setelah mendapat anggukan, Kaka bergegas naik ke atas kamarnya yang berada di lantai atas.
Sembari menunggu Kaka, Aurara bisa melihat dalam duduknya, banyak bingkai foto di sini. Dari foto Kaka sewaktu kecil-- Aurara terkekeh gemas melihatnya, bahkan di foto pun Kaka susah tersenyum-- sampai foto satu-satu anggota keluarga dan foto seluruh anggota keluarga Kaka. Ada satu bingkai paling besar di tembok atas televisi. Memperlihatkan foto ayah, bunda, Kaka dan kakak Kaka. Foto itu terlihat sangat kuat energinya. Raut wajah mereka bahagia. Sangat mencerminkan apa itu artinya keluarga bahagia. Keluarga yang utuh.
Tanpa sadar, airmata Aurara menetes. Dia sangat merindukan mama dan papanya. Berkumpul bersama seperti dulu. Tertawa bersama saat Aurara menjahili Ismail yang dulu hanya bisa menangis. Makan bersama di meja makan. Duduk bersama menonton tv. Semua hal bersama mama papanya akan selalu Aurara rindukan. Aurara ... merindukan keluarga utuhnya dulu. Keluarga bahagia.
Mengenang soal keluarganya, tiba-tiba Aurara dikejutkan dengan sebuah suara yang terdengar sangat lembut di telinganya.
"Loh? Kamu kenapa nangis?" Selita yang baru saja dari dapur terkejut saat mendapati seorang gadis duduk di sofanya dengan tatapan kosong dan airamata yang mengalir.
Melihat wanita setengah baya yang masih terlihat cantik itu Aurara segera mengusap airmatanya. Digantikan dengan senyum lebarnya. Meskipun sangat kontras dengan mata dan hidungnya yang masih merah dan sembap.
"Kamu kenapa nangis? Dilihat dari seragamnya, kamu teman Kaka ya? Eh, atau pacarnya?" tanya Selita lagi. Wanita itu kemudian duduk di samping Aurara.
Saat Aurara hendak menjawab, Suri datang menengahi. Aurara sempat heran, wajah Kakak Kaka ini cantik, sangat cantik. Kulitnya putih mulus, wajahnya tirus dengan setiap bagian wajahnya yang bisa Aurara bilang sempurna. Namun itu semua sangat kontras dengan penampilannya. Celana robek-robek selutut, baju putih yang nyaris menyalip celananya dengan gambar yang entah itu gambar apa Aurara juga tidak tahu, ditambah lagi rambutnya yang digulung tinggi-- nyaris persis dengan kunciran rambutnya biasanya.
"Bunda, kok nggak curiga, sih? Kaka tadi tiba-tiba pergi, pulang-pulang bawa cewek yang penampilannya udah berantakan gini," ucap Suri lalu duduk bersila di sofa sebrang sang bunda. Suri bahkan sampai melirik penampilan Aurara dari atas ke bawah.
Alis Selita bertaut bingung. "Curiga apa? Curiga mereka habis tawuran?"
"Bukan Bunda. Lagian nggak mungkin si Kaka tawuran. Cowok lembek gitu mana bisa tawuran." Suri tertawa meremehkan.
"Lo ngajak gue tawuran, Kak?" Kaka yang baru saja turun menyahut datar. Cowok itu kemudian melirik Aurara.
"Bersihin badan. Ke kamar gue," ucap Kaka pada Aurara yang sedari tadi duduk dengan canggung. Saat hendak berbalik lengan Kaka dicekal Suri.
"Lo daritadi suruh jelasin susah amat. Makin curiga gue," sergah Suri. Dia melirik Selita. "Tuh, aneh kan dia Bun?"
"Bunda." Nada suara Kaka terdengar memohon. "Biar dia bersihin badan dulu, nanti Kaka jelasin," pintanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Kaka&Rara [Completed]
Teen Fiction[DISARANKAN FOLLOW TERLEBIH DAHULU BIAR KEREN KAYAK SAYA] ___________ Brukk Tubuh Kaka ambruk saking terkejutnya. Aurara, cewek itu tiba-tiba melompat naik ke punggungnya, yang otomatis membuat Kaka tersungkur ke depan karena sama sekali tidak siap...
![Kaka&Rara [Completed]](https://img.wattpad.com/cover/184402218-64-k695750.jpg)