Angin berembus tenang. Seolah membelai mesra kedua pipi Aurara yang terlihat lebih putih di bawah sinar matahari. Aurara membenarkan posisi duduknya di sebuah sofa lusuh berwarna putih tulang kemudian memejamkan matanya, menikmati embusan angin.
"Jangan merem, nanti ketiduran."
Sebuah teguran membuatnya refleks membuka mata. Aurara menoleh ke samping kanannya. Senyumnya terbit.
"Seumur-umur sekolah di sini aku enggak pernah, loh main ke rooftop," ucap Aurara. Dia menyapu pandang sekitar. "Palingan ke belakang sekolah, ke perpus, ke kantin, ke lapangan, ke toilet. Astaga, monoton banget tempat main aku, ya, Kaka?"
Kaka balas menatap Aurara. "Lupa dulu pernah ke sini sama gue?" tanyanya dengan alis terangkat.
"Masa iya?" heran Aurara. Bola matanya bergerak ke atas, mencoba mengingat.
"Waktu gue putusin lo," ucap Kaka menjawab kebingungan Aurara.
Aurara menegak ludahnya. Benar. Dia pernah ke sini bersama Kaka. Tempat inilah yang menjadi saksi pecahan tangisnya saat Kaka meminta putus. Memikirkan itu, Aurara sontak menoleh pada Kaka. Matanya menatap curiga sekaligus horor pada Kaka.
"Jangan bilang ... kamu mau putusin aku untuk kedua kalinya di sini?"
Demi mendengarnya, tawa Kaka meledak seketika. Aurara itu berpikir apa? Belum jadian masa mau putus?
"Kok ketawa? Aku lagi enggak bercanda. Tolong, ya, Kaka. Inget-inget itu aja aku masih patah hati. Jadi aku nggak bakal siap diputusin untuk kedua kalinya," ucap Aurara menatap serius pada Kaka yang masih saja tertawa.
"Enggak, Ra," jawab Kaka di sisa-sisa tawanya.
Hati Aurara terasa lega seketika. Setidaknya, Aurara berharap hari ini banyak hal baik terjadi padanya. Aurara ingin rehat barang sejenak dari masalah-masalah hidup yang membelenggunya.
Saat tawanya benar-benar mereda, Kaka mengambil sesuatu di balik tubuhnya. Sebuah kotak makan berwarna cokelat langsung terlihat.
"Kaka ke sekolah bawa bekal?" tanya Aurara merasa geli dan lucu. Cowok sekeren Kaka apa tidak malu membawa bekal ke sekolah?
"Bunda maksa bawain." Kaka terlihat jengkel. Dia kemudian membuka tutup kotak makan, ada nasi goreng dan telur mata sapi di dalamnya.
Melihat itu membuat Aurara merasa sedih. Itu semua mengingatkannya pada kotak makan berisi nasi goreng cinta buatannya yang diberikan pada Kaka tempo hari, yang malah Kaka berikan pada Mikhayla. Hatinya teriris waktu tahu fakta itu, perjuangannya seolah sia-sia.
"Ra, kenapa?" Kaka menyadarkan Aurara yang melamun.
Aurara tersentak. Kemudian menggeleng cepat. "Enggak apa, kok. Kayaknya enak. Yaudah kamu makan. Aku pengen liatin kamu makan. Aku yakin, deh, kamu kalo makan kadar kegantengannya meningkat. Kamu pasti juga bakal keliatan seksi waktu ngunyah," cerocosnya.
Kaka terdiam. Tidak habis pikir dengan jalan pikiran Aurara. Namun dalam waktu bersamaan Kaka pun senang. Aurara yang dia kenal telah kembali seutuhnya. Telah hilang Aurara yang ketus, cuek dan galak.
"Buat lo aja," putus Kaka kemudian menyerahkan kotak makannya.
Mulut Aurara ternganga. "Serius buat aku?!"
"Hm. Gue kenyang."
"Alhamdulillah. Kebetulan aku juga belum sarapan. Makasih, ya, Kaka!" Aurara berseru heboh, kemudian tanpa banyak bicara lagi menerima kotak makan Kaka dan melahapnya.
Menit selanjutnya pun diisi oleh celotehan Aurara tentang enaknya masakan Selita dan tawaran Aurara untuk menyuapi Kaka. Dan jawaban Kaka tetap sama, menggeleng.
KAMU SEDANG MEMBACA
Kaka&Rara [Completed]
Novela Juvenil[DISARANKAN FOLLOW TERLEBIH DAHULU BIAR KEREN KAYAK SAYA] ___________ Brukk Tubuh Kaka ambruk saking terkejutnya. Aurara, cewek itu tiba-tiba melompat naik ke punggungnya, yang otomatis membuat Kaka tersungkur ke depan karena sama sekali tidak siap...
![Kaka&Rara [Completed]](https://img.wattpad.com/cover/184402218-64-k695750.jpg)